KARST: Dampak Tambang Serius pada Lingkungan-Sosial

13 - May - 2014 | adplus

JAKARTA, KOMPAS — Kawasan karst menyimpan air tanah dengan sangat baik, selain menjadi habitat fauna penjaga keseimbangan ekologi. Oleh karena itu, kawasan karst, terutama yang di dekat area pertanian dan permukiman penduduk mutlak perlu dilindungi.
”Kawasan karst yang di sekitarnya ada pertanian atau permukiman warga seharusnya dikonservasi. Tidak boleh ditambang,” kata Ketua Program Studi Teknik Geologi ITB Budi Bramantyo, yang dihubungi dari Jakarta, Senin (12/5). ”Walaupun dari permukaan tampak kering, jauh di bawah permukaan karst pasti kaya air. Bahkan, beberapa karst memiliki sungai bawah tanah yang bisa mengalir jauh.”

Budi, yang juga ahli karst, mengatakan, penambangan karst bisa berdampak langsung mengeringnya mata air. ”Faktor ini sebaiknya dihitung dalam rencana penambangan kawasan karst,” ujarnya.

Selain berfungsi menyimpan air, ekosistem karst juga biasanya punya banyak goa sebagai habitat burung walet dan kelelawar. ”Walet fungsi ekonominya jelas. Sarangnya bernilai tinggi. Kelelawar juga sangat berguna,” kata dia.

Dalam semalam, seekor kelelawar bisa memakan serangga, khususnya nyamuk seberat tubuhnya, sekitar 17 gram. ”Hilangnya ribuan kelelawar pasti berdampak ekologis,” kata dia.

Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional menyebutkan, kawasan karst merupakan salah satu Kawasan Lindung Geologi, yaitu kawasan cagar alam geologi (Pasal 52 (5), huruf a). Oleh karena itu, kawasan karst harus dilindungi (Pasal 53 (1), huruf b dan c).

Namun, menurut Budi, karst memiliki fungsi ekonomi tinggi, terutama untuk bahan baku semen. ”Batu gamping penyusun bentang alam karst merupakan penghasil kalsium karbonat. Hampir 70-80 persen bahan baku semen adalah batu gamping. Selain itu, batu gamping juga untuk bahan cat tembok, pemurnian baja. Pemurnian industri gula pasir juga menggunakan tepung karbonat,” kata dia.

Selama kebutuhan semen tinggi untuk pembangunan, kata Budi, desakan menambang kawasan karst pasti kuat. ”Harusnya dibuat zonasi. Artinya, harus dipilih kawasan karst yang boleh ditambang yang potensi dampak lingkungan dan sosialnya kecil. Di Jawa, rasanya tak ada lagi kawasan karst layak tambang. Di dekatnya pasti ada warga.”

Penolakan warga
Menurut Budi, lokasi penambangan dan rencana penambangan karst terbesar di Indonesia justru di Pulau Jawa, utamanya di sepanjang Pegunungan Kendeng yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Seperti diberitakan Kompas (16/1), PT Semen Indonesia Rembang berencana investasi Rp 1,5 triliun membangun pabrik semen di Kabupaten Rembang. Sementara itu, PT Sahabat Mulia Sakti, anak perusahaan PT Indocement Tunggal Perkasa, berencana membangun pabrik semen di Kecamatan Tambakromo dan Kayen, Pati (Jawa Tengah) dengan nilai investasi Rp 5 triliun (Kompas, 12/5).

Rencana pembangunan pabrik semen di dua daerah itu ditolak masyarakat Pati dan Rembang. Setelah sebelumnya Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Pati mengirim surat pengaduan ke Gubernur Jateng, giliran JMPPK Rembang mengadukan rencana pembangunan pabrik ke Komnas HAM pada Senin (12/5).

Baskoro, dari JMPPK Rembang, mengatakan, rencana penambangan itu mengancam kehidupan ribuan petani di Desa Kadiwono, Pasucen, Kajar, Timbrangan, Tegaldowo, Bitingan, dan Suntri. ”Kami mengadukan ke Komnas HAM karena ada dugaan pelanggaran izin dan intimidasi kepada masyarakat desa,” kata Baskoro. (AIK)

Sumber berita: Kompas, Selasa, 13 Mei 2014. Link: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000006594637 (Diakses Pkl. 10.00 WIB)
Sumber foto: Panoramio.com

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Tags: , , , , Trackback | 1 Comment

One Response to “KARST: Dampak Tambang Serius pada Lingkungan-Sosial”

  1. tekun says:

    kebangetan kalo pembangunan dipaksakan..bukan malah membuat masyarakat senang..

Leave a Reply