Musim Semi Semen di Indonesia

20 - Aug - 2014 | Kompas

KETIKA Tiongkok mulai mengurangi produksi semennya karena industri ini dianggap sebagai polutan udara terbesar, di Indonesia justru tengah memasuki musim semi. Sejumlah pemain baru, termasuk dari Tiongkok, berlomba-lomba membangun pabrik semen baru di Indonesia.

Pada saat berkunjung ke Redaksi Kompas, di Jakarta, Senin (21/7), Presiden Direktur PT Semen Indonesia Tbk (PT SI) Dwi Soetjipto mengatakan, kebutuhan semen dalam negeri saat ini sangat tinggi. Oleh karena itu, pihaknya merasa berkewajiban memenuhinya.

Semen, yang menjadi perekat dalam konstruksi batu dan beton, merupakan tulang punggung konstruksi. Karena itu, menafikan sama sekali keberadaan semen memang mustahil. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 6 persen per tahun, Dwi menghitung kebutuhan semen ke depan akan kian tinggi. Belum lagi pasar dunia yang juga terbuka lebar.

”Kalaupun kami tak membangun pabrik baru, banyak perusahaan lain membangun di Indonesia, termasuk beberapa perusahaan asing,” kata Agung Wiharto, General Manager of Corporate Secretary PT SI.

Agung menyebut sejumlah perusahaan semen baru yang siap masuk Indonesia, di antaranya Siam Cement (Thailand) yang akan beroperasi di Jawa Barat, Semen Merah Putih (Wilmar) di Banten, Ultratech di Wonogiri, dan Jui Shin Indonesia di Jawa Barat. Perusahaan semen terbesar Tiongkok, Anhui Conch Cement, akan beroperasi di Kalimantan dan Papua Barat. Khusus di Rembang, Jawa Tengah, selain PT SI, akan masuk empat perusahaan semen lain, yang salah satunya dimiliki perusahaan real estat nasional yang gencar-gencarnya membangun apartemen dan pertokoan di Jakarta.

Padahal, pembangunan pabrik PT SI di Rembang hingga kini masih menuai konflik. Sudah lebih dari dua bulan warga di sekitar lokasi pabrik berkemah di sekitar lokasi tapak, menentang pembangunan. Warga desa, yang mayoritas petani, menolak karena tak ingin kedaulatan atas tanah dan air mereka terancam penambangan.

Daya dukung lingkungan
Pentingnya semen untuk pembangunan, menurut Rektor Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Prof Sudharto P Hadi, tidak lantas membuat industri ini boleh berbuat semaunya. ”Dalam kasus di Rembang, saya mendukung Pak Surono (Badan Geologi). Kalau berada di zona resapan cekungan air tanah, jelas tidak boleh ditambang,” ujar doktor Ilmu Lingkungan ini.

Geolog UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh, juga mendukung Badan Geologi. ”Badan Geologi bukan hanya alat industri, melainkan juga alat negara untuk menyejahterakan rakyat. Dan itu artinya bukan hanya memberi kemudahan izin industri, tetapi dengan berpijak pada pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Eko menambahkan, eksploitasi karst yang berkelanjutan adalah mengelola airnya. Karst yang terbentuk jutaan tahun dari batuan karang lautan purba yang terangkat tak lagi tumbuh. Beda dengan reservoir berupa tubuh gunung api yang masih memproduksi material vulkanik.

Menurut Sudharto, daya dukung lingkungan mestinya jadi dasar bagi industri semen. ”Kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) harus dilakukan dengan mengintegrasikan aspek lingkungan sejak tahapan awal perencanaan. Jadi, amdal itu tahapan akhir, ketika kelayakan teknologi dan sosial ekonomi sudah bilang iya. Harus dipastikan apakah dampak positifnya lebih besar,” ujarnya.

Khusus untuk penambangan di Pulau Jawa, kata Sudharto, perlu dikaji lebih serius karena risiko yang sangat besar. Selain daya dukung ekologi Jawa yang menyusut, kepadatan penduduk di pulau ini sangat tinggi sehingga rentan memicu konflik sosial. ”Dampak lingkungan berkaitan dengan dampak sosial. Ketika sawah tempat bergantung hidup terancam, lalu mata pencarian terganggu, pasti ada masalah,” tuturnya.

Padahal, Jawa paling disasar industri semen. Sekalipun pembangunan pabrik di Jawa sudah tinggi, industri semen tetap tertarik karena kedekatannya dengan pasar. ”Komponen transportasi dalam produksi semen mencapai 20 persen dari total biaya,” kata Dwi Soetjipto.

Belajar dari Tiongkok
Tiongkok adalah produsen sekaligus konsumen terbesar semen di dunia dengan produksi mencapai 2,21 miliar ton pada tahun 2012 atau 56 persen produksi global. Negeri ini juga
memiliki kualitas udara terburuk.

Penelitian Yu Lei dkk (MIT Press, 2014) menyebut, industri semen penyumbang pencemaran udara tertinggi di Tiongkok. Beberapa polusi udara yang dikeluarkan industri semen adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), dan debu. Sumbangan polusi terbesarnya terutama debu dan CO2. Partikel debu industri semen mengandung logam berat, seperti kromium, nikel, kobalt, timbal, dan merkuri yang bisa berdampak serius pada lingkungan dan manusia.

Tahun 2000, industri ini menyumbang 40 persen pencemar debu di Tiongkok yang bersumber dari industri. Polutan CO2 dalam jumlah besar juga dikeluarkan, baik dari pembakaran bahan bakar untuk produksi, yang biasanya menggunakan listrik batubara, maupun proses kimia untuk melarutkan kalsium karbonat (CaCO3). Pantauan dua organisasi nasional Tiongkok terkait gas rumah kaca (SDRC 2004 dan NDRC 2012), semen berkontribusi menaikkan emisi CO2 Tiongkok di sektor industri dari 57 persen tahun 1994 jadi 72 persen pada 2005.

Kenyataan ini membuat Tiongkok memperketat standar produksi semennya mulai akhir 2013. Tak hanya itu, Kementerian Perlindungan Lingkungan Tiongkok (www.mep.gov.cn) telah merencanakan mengurangi produksi semen negara itu hingga 37 juta ton pada 2015 (Reuters, 27 Desember 2013).

Musim semi industri semen di Tiongkok agaknya segera berakhir dan pindah ke Indonesia. Namun, peneliti pada School of Democratic Economics Hendro Sangkoyo mengingatkan, ekspansi besar industri semen harus dilihat kritis. ”Tiongkok mulai mengurangi produksi semen dalam negerinya. Mereka memilih mengonservasi bentang alam karst karena kepentingan perdagangan karbon,” ungkapnya. ”Jadi, ekspansi perusahaan semen dunia, khususnya dari Tiongkok, harus dibaca bahwa Tiongkok mempraktikkan politik ekonomi membuang yang paling kotor ke luar negeri.”

Selain itu, Hendro mengingatkan, produksi semen nasional lebih banyak memenuhi kebutuhan real estat kota dibandingkan kebutuhan infrastruktur dasar. Industri semen pun lebih menyasar ekspor.

Jika konsisten dengan visi pembangunan berkeadilan, barangkali Papua, yang harga semennya bisa Rp 1 juta per zak, lebih butuh semen dibandingkan Jawa. Jadi, industri semen sebenarnya untuk siapa?

Sumber berita: Kompas 20 Agustus 2014 hlm. 14

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Trackback | 0 Comments

Leave a Reply