Gunretno: Ilmu Itu ”Lelaku”

25 - Aug - 2014 | Kompas

”SEKOLAHKU Pegunungan Kendeng, jurusannya tanah dan air.” Begitu dituturkan Gunretno, sosok penting gerakan tolak semen di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah.
Gunretno adalah pembelajar abadi sekolah kehidupan rakyat petani. Pengalamannya mengukuhi tanah sebagai tempat berpijak, air dan tumbuhan sebagai sumber hidup, otentik.

”Aku menanam dan memanen, hidup di Kendeng, jadi ngerti langsung tentang Kendeng,” ujar Gunretno, yang untuk kesekian kali ditemui di rumahnya, di Dusun Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati, beberapa waktu lalu.

Dia adalah salah satu tokoh muda komunitas Sedulur Sikep, yang oleh orang luar disebut masyarakat Samin. Namanya mencuat saat ia menyatukan warga yang sebagian besar bukan anggota komunitasnya untuk menolak rencana pembangunan pabrik semen di lokasi dengan 172 mata air di wilayah Pegunungan Kendeng.

Sukolilo, Kayen, dan Tambakromo adalah tiga kecamatan di Kabupaten Pati di punggung Pegunungan Kendeng Utara. Bersama lima kecamatan di Kabupaten Grobogan dan satu kecamatan di Kabupaten Blora, kawasan itu dikenal sebagai kawasan karst Sukolilo.

Egaliter
Di ruang publik, Gunretno mewakili segala yang khas dari komunitas itu; baju dan celana longgar warna hitam dengan ikat kepala udeng. Dia berbicara dalam bahasa Jawa ngoko, menunjukkan sikap egaliter, dan beruluk salam dengan kata ’kewarasan’. Berulang kali ia mengucap nuwun sewu saat mengungkap pengetahuan yang dia kuasai.

Perbincangan dengan Gunretno dan keluarganya kerap mengguncang pikiran mapan tentang banyak hal dalam hidup. Kebersahajaan dalam sikap dan ungkapan membalikkan logika berpikir yang tak pernah digugat. Yang ditohok adalah jantung sikap hidup: kemalasan berpikir dan kenyamanan mengunyah hal salah sebagai kebenaran.

Salah satu yang mengenyak adalah jawabannya tentang umur. ”Siji kanggo saklawase,” satu untuk selamanya. ”Umur itu hanya satu,” jelas dia. ”Kalau 40, 80, itu tahun. Aku bicara apa adanya, tetapi karena orang tidak lagi bicara apa adanya, kami dianggap nyleneh.”

Namun, ada hal yang lebih substansial. ”Umur menyangkut hidup. Kalau sudah mati, tak ada lagi pertanyaan itu. Padahal, hidup ini langgeng, tidak pernah mati.”

Hukum terpenting komunitas itu adalah kejujuran (pikir, ucap, dan tindak), ora srei, drengki, tukar padu, dahpen kemeren, kutil jumput, mbedog colong. Artinya, tidak iri, dengki, perang mulut (apalagi berkelahi), menipu, mencuri, selalu berlaku baik dan benar.

Komunitas Sedulur Sikep sangat menghormati kehidupan. Mereka menghormati Bumi seperti ibu. Bumi adalah Ibu Pertiwi yang melahirkan hidup dan memberi kecukupan sepanjang masa. Menghormati dan merawat keseimbangan alam dengan demunung— artinya tidak serakah—adalah kunci selamat menjalani hidup.

”Kalau tidak, alam akan menata keseimbangannya sendiri,” Gunretno mengingatkan.

Menata keseimbangan berarti genepe alam (genapnya pranata alam), melalui berbagai bentuk bencana. ”Manusia adalah bagian dari alam. Makanya harus dandan-dandan (memperbaiki sikap), supaya jangan ada korban dan dampak lebih besar dari proses itu.”

Tidak tunduk
Bagi Gunretno dan kawan-kawan, menolak tambang dan pembangunan pabrik semen di wilayah di Pegunungan Kendeng Utara adalah perjuangan mempertahankan Tanah Air, yang artinya menjaga tanah dan air, demi kehidupan.

Perjuangan itu juga bisa dibaca sebagai upaya merebut kembali otoritas diri (dan komunitas), beserta seluruh definisinya. Mereka tidak silau oleh iming-iming ”kemakmuran dan kesejahteraan” dari pemodal.

Bagi mereka, kemakmuran dan kesejahteraan tidak dihitung dari nilai materi, seperti pangkat, derajat, uang, kuasa, tetapi seger-waras dan kemandirian sebagai petani. Artinya, faktor produksi yang mendukung pertanian, terutama air, tanah, dan manusianya, harus dijaga dan dirawat. Merunut sejarah, perjuangan komunitas itu selalu terkait dengan kedaulatan hidup.

Setelah mengalami kekerasan sistemik sejak tahun 2006, perjuangan melalui hukum membuahkan hasil. Tahun 2010, Mahkamah Agung mengabulkan tuntutan warga. Keputusan itu secara otomatis membatalkan izin penambangan. Tahun 2014, kawasan karst Sukolilo dinyatakan sebagai kawasan lindung geologi dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 2641K/40/MEM/2014.

Namun, persoalannya jauh dari usai. Selain muncul ketegangan baru dengan warga petambang, Kayen dan Tambakromo diincar korporasi semen lainnya, tahun 2010. Dua tahun kemudian, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo (2008-2013) meletakkan batu pertama pembangunan pabrik semen di wilayah cekungan air tanah (CAT) Watu Putih, Rembang.

Gunretno kembali terlibat dalam gerakan penolakan itu. ”Bagaimana aku bisa mengusir satu truk ibu-ibu yang minta bantuan karena melihat contoh Sukolilo. Sebelum itu ada lima keluarga, datang cerita tidak tahu lagi harus apa, bisanya pergi ke dukun.”

Meski Rembang tak termasuk kawasan karst Sukolilo, sikap itu punya dasar. ”Bagi Sedulur Sikep lemah podo duwe, bumi podo ngencike (kita sama-sama berdiri di atas tanah dan Bumi yang sama). Tanah dan Bumi bagian dari kami. Di mana tanah dirusak, kami merasakannya. Jangan membedakan lokasi, tempat. Ini bukan persoalan Rembang saja, ini persoalan bersama. Jadi diperlukan solidaritas tanpa batas.”

Menurut Gunretno, ”Sejak tahun 2006, wilayah Kendeng Utara menjadi media pendidikan para sedulur di pantura, supaya kritis mengenai hak-hak mereka. Kalau tidak ada persoalan Kendeng, masyarakat terus dibohongi.”

Pendidikan model itu bisa dibaca sebagai pedagogi kritis, yang digagas tokoh pendidik Brasil, Paulo Freire (1921-1997). Pendidikan kritis mencakup penolakan secara aktif segala bentuk penindasan sosial, setelah menyadari, realitas sosial bukanlah ’takdir’, tetapi dikonstruksikan.

Terus bergerak
Gerakan penolakan yang dilakukan tanpa kekerasan itu tampaknya sejalur dengan sejarah pembangkangan masyarakat Samin. Bedanya, dulu mengandalkan kesaktian, kini teknologi. Meski hanya sampai kelas VI SD, Gunretno sangat cerdas. Dia srawung dengan banyak pihak di luar diri dan komunitasnya. Dia fasih membaca, berhitung, akrab dengan laptop dan gadget.

”Pertama bisa nyopir dan punya HP, aku dipanggil Mbah Tarno yang sekarang sudah salin sandangan (meninggal). Waktu itu aku tidak bisa jawab, karena baik-buruknya teknologi harus dibuktikan. Sekarang manfaatnya terbukti. Para sedulur bisa terima, tetapi, tetap harus hati-hati.”

Dengan teknologi, dia membangun jaringan solidaritas. Saat disomasi pabrik semen, dia siap, karena punya dokumentasi video dan saksi, yang menunjukkan kerusakan lingkungan di Tuban, disertai rekaman memori kolektif warga desa.

Generasi berikut gerakan ini, menurut Gunretno, harus menguasai teknologi untuk membuat dokumentasi gambar dan suara sebagai alat bukti. ”Para sedulur itu tidak belajar dari aku. Mereka sudah belajar. Mereka punya ’buku’-nya sendiri, lelaku jadi ilmu. Buku bacaan penting, tetapi harus diseimbangkan dengan buku dari diri sendiri. Aku juga terus belajar.”

Upaya itu juga menggunakan media kebudayaan, antara lain menghidupkan kembali lamporan, ritual tradisional mengusir hama dan penyakit. ”Hama lebih dahsyat saat ini adalah pabrik semen dan kebijakan pemerintah. Yang dimakan bukan hanya tanaman, tetapi juga tanah, bahkan manusianya. Persaudaraan dirusak.”

Ia mempertanyakan, mengapa kesejahteraan selalu dihubungkan dengan industri, tetapi jarang membicarakan pangan secara nyata; bukan hanya peningkatan produksi, tetapi kualitasnya. Termasuk, bagaimana mensyukuri yang dimakan, bumi dan lingkungan alam yang memberi hidup, petani buruh, persaudaraan dan kekeluargaan. Untuk itu, ia menemui anak-anak muda di perguruan tinggi dan menggagas forum rembukan soal pangan.

Namun, karena ia ”membuka pintu” terhadap pembaruan, ia harus menjaganya. ”Kalau Sedulur Sikep sudah mulai pegang HP, saya ikut memantau. Kalau sudah bersekolah formal, relasinya semakin jauh, bisa sampai jadi buruh migran. Makanya dijaga.”

Gunretno menyadari, teknologi adalah pisau bermata dua, pun relasi-relasi sosial, karena sifatnya yang licin. Itu sebabnya dibutuhkan ruang refleksi kolektif dari ruang-ruang personal yang kritis guna menguatkan ruang sosial bersama

Inilah proses kesadaran kolektif yang disebut Freire sebagai konsientisasi. Pendidikan formal mengabaikannya. Maka, manusia modern kehilangan mata hati. Gunretno membalikkan semua ini.

Penulis: Maria Hartiningsih & Ahmad Arief
Sumber berita dan foto: Kompas, 24/08/2014

Depan | RSS 2.0 | Kategori: Kliping Media | Tags: , , , , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply