Press Release Jagongan Media Rakyat 2014: Jejaring Media Warga Menyelamatan Kendeng Utara

23 - Oct - 2014 | adplus

Penetrasi media sosial begitu tinggi di Indonesia. Setelah gonjang-ganjing Research In Motion (RIM) beberapa tahun yang lalu, giliran perusahaan besar dalam social media, Twitter dan Facebook, mengunjungi Indonesia dengan tawaran yang lebih serius. Twitter memandang perlu membuka perwakilannya di negara tercerewet nomor empat di dunia dalam penggunaan twitter ini. Sebagai negara dengan pengguna facebook yang cukup tinggi, tak heran jika Mark Zuckerberg mendatangi Indonesia untuk membuka kemungkinan investasi lebih besar di Indonesia. Tak hanya pada hitung-hitungan bisnis, penggunaan media sosial juga terus berkembang untuk berbagai tujuan. Selain untuk kegiatan hiburan dan pendidikan, media sosial juga digunakan untuk kepentingan perjuangan warga mengenai berbagai isu, salah satunya adalah kasus rencana pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara.

Kasus Prita Mulyasari dan penyelamatan KPK dalam kasus “cicak vs buaya” menunjukkan bagaimana kasus-kasus ini menjadi perhatian publik ketika ramai diperbincangkan di media sosial. Media massa yang semula tak begitu perhatian pun menjadi tertarik untuk mengangkatnya dengan menjadikan keriuhan di dunia social media sebagai rujukan. Penggunaan social media di kehidupan masyarakat urban tidak lah terlalu mengeherankan karena sebagian besar mereka telah melek informasi dan akrab dengan perangkat media terbaru . Namun bagaimana sosial media berperan dalam kehidupan masyarakat di daerah pedesaan?

Facebook sudah menjadi bagian keseharian dari remaja pedesaan kebanyakan. Murahnya perangkat smartphone dan meluasnya jaringan internet menjadi dua hal yang menyebabkan pesatnya perkembangan penggunaan internet da sosial media di pedesaan, terutama di Jawa dan Sumatra. Medium baru ini membuat akses informasi menjadi lebih mudah. Begitu pula saat harus menyebarkannya kembali, cukup dengan sekali “klik” di tombol “bagikan”. Fenomena ini membuat peta aktor dalam konsolidasi pengetahuan di masyarakat pedesaan berubah. Bahwa mereka yang memiliki pengetahuan lebih banyak tidak melulu berasal dari kategori dewasa tapi bisa jadi remaja yang memiliki refensi informasi yang lebih beragam.

Ide tentang kemajuan yang dibawa oleh industrialisasi pertambangan tidak lagi menjadi konsep kemajuan yang ideal. Keselamatan anak cucu dan perlindungan alam menjadi dasar mereka menolak rencana penambangan ini. Kesadaran ini dihasilkan dari proses refleksi pengetahuan alternatif yang didapatkan oleh warga, baik dari pengalaman keseharian maupun dengan mengkonsumsi media.

Kesadaran yang terus berubah akibat konsumsi media menjadi kalimat yang menggambarkan apa yang terjadi pada masyarakat Pegunungan Kendeng Utara. Jejaring informasi yang didapatkan dari media sosial menjadi materi untuk membentuk kesadaran baru yang berbeda dan lebih berani. Berbagai contoh kerusakan alam akibat pertambangan di daerah lain mereka dapatkan dari media alternatif karena sangat jarang media-media besar mengabarkannya. Menariknya, informasi alternatif ini tidak hanya berujung pada penyataan positioning terhadap kasus rencana penambangan di Kendeng Utara tetapi berlanjut pada aksi nyata di luar konteks aktivisme media.

Selain melakukan aksi massa, warga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Utara juga melakukan pemetaan partisipatif mengenai potensi goa dan mata air yang ada di wilayahnya. Ini dilakukan untuk membantah temuan akademisi yang bekerja dalam penyusunan Analisis Menegenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Hasilnya, seperti yang ditemukan di Rembang dan Pati, banyak mata air, goa dan ponor yang tidak dimasukkan dalam dokumen AMDAL. Keilmiahan kajian AMDAL pun menjadi pertanyaan.

Pengalaman mengkonsumsi dan memproduksi media alternatif oleh warga yang sedang menghadapi konflik sumber daya alam inilah yang ingin dibagikan ke banyak komunitas. Keikutsertaan Omah Kendeng yang didukung oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng dan Desantara Foundation dalam Jagongan Media Rakyat 2014 menjadi bagian dari agenda besar mempertemukan berbagai komunitas yang sedang mencoba mencari konsep pembangunan alternatif yang tidak harus merusak alam. Dalam kegiatan ini diharapkan publik dapat mengetahui duduk persoalan dan bergerak bersama menyelamatkan Pegunungan Kendeng Utara.

Yogyakarta, 23 Oktober 2014

–Mokh Sobirin (Direktur Eksekutif Desantara Foundation)

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply