Pers Rilis Aksi Bersama Koalisi Semarang untuk Kendeng: Investasi PT. Semen Indonesia Mengancam Lingkungan

3 - Dec - 2014 | adplus

Pers Rilis Aksi Bersama Koalisi Semarang untuk Kendeng;
Investasi PT. Semen Indonesia Mengancam Lingkungan
Hentikan bantuan financial ke PT Semen Indonesia

Semarang, 3/12/2014. Sekitar 20 aktivis lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Semarang untuk Kendeng melakukan aksi diam di depan Bank Indonesia di jl. Imam Barjo Peleburan Semarang. Aksi yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB tersebut dilakukan sebagi bentuk dukungan terhadap warga rembang yang saat ini sedang berjuang menyelamatkan kawasan karst yang terancam pertambangan oleh PT Semen Indonesia.

Peran strategis Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia untuk memastikan bahwa setiap uang yang dipinjamkan kepada perusahaan tidak merusak lingkungan dan melanggar hak asasi manusia sangat kuat. Komitmen dua lembaga tersebut sangat penting untuk terwujudnya investasi yang ramah lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Diketahui tahun ini Otoritas Jasa Keuangan telah melakukan kerjasama dengan Kementrian Lingkungan Hidup untuk memwujudkan pembangunan yang berkeadilan ekologis. Kerjasama ini merupakan program lanjutan KLH dengan Bank Indonesia sejak 2010 dalam kerangka pelaksanaan nota kesepahaman green banking.
Pelaksanaan green banking adalah satu upaya untuk mengubah paradigma dalam pembangunan nasional dari greedy economy menjadi green economy. Greedy economy merupakan istilah di mana fokus ekonomi hanya terbatas pada pertumbuhan ekonomi yang dinilai melalui pertumbuhan GDP, melakukan eksploitasi kekayaan alam, dan aktivitas ekonomi yang bertumpu pada utang. Sedangkan green economy merupakan perubahan pandang terhadap pembangunan ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan 3P (people, profit, planet), perlindungan dan pengelolaan kekayaan alam, serta partisipasi masyarakat.
Berdasarkan undang-Undang No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup telah mengharuskan semua aktivitas ekonomi untuk patuh mendorong kelestarian lingkungan. Perbankan sebagai bagian dari entitas bisnis tentunya tidak terlepas dari hal ini. Pengabaian terhadap ketentuan tersebut tentunya akan berpotensi meningkatkan risiko kredit, risiko hukum dan risiko reputasi bagi perbankan. Untuk itu perbankan perlu memahami dan menguasai lebih baik mengenai manajemen risiko lingkungan hidup ini,” demikian Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Waas saat membuka pertemuan tersebut.
Kasus PT Semen Indonesia dengan masyarakat Kabupaten Rembang yang menolak rencana eksploitasi Cekungan Air Tanah Watuputih menjadi bukti bahwa konsep pembangunan berkalanjutan yang didorong oleh sektor perbankan masih belum sepenuhnya terlaksana. ekspolitasi cekungan air tanah watuputih yang menjadi sumber air lebih dari 600 ribu jiwa seharusnya menjadi pertimbangan perbankan untuk tidak memberikan bantuan financialnya ke PT. Semen Indonesia.
Manager Kebijakan dan Pembelaan Hukum Walhi Eksekutif Nasional mengatakan “pinjaman financial perbankan terhadap PT. Semen Indonesia yang akan mengekspoitasi sumber air cekungan air tanah watuputuh akan berkontribusi menyumbang laju percepatan kerusakan lingkungan di jawa tengah. Bank yang membantu secara financial tersebut harus mempertimbangan aspek lingkungan dan hak asasi manusia guna meninjau ulang kerjasama bantuannya ke PT Semen Indonesia” imbuhnya.
Sementara itu Unu Herlambang dan Hasan Tuban dari Satjipto Raharjo Institute menambahkan “kebijakan sektor perbankan yang peduli terhadap lingkungan mutlak dilakukan saat ini, karena kondisi jawa tengah yang selama ini sudah rawan bencana lingkungan – keadilan hukum harus menyentuh aspek dasar manusia yaitu lingkungan” katanya.
Aksi diam yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut diikuti oleh sekitar 20 orang dari berbagai macam latar belakang dengan mengenakan kaos SAVE-REMBANG untuk menunjukkan kepedulian dari masyarakat Semarang yang tergabung dalam Koalisi Semarang untuk Kendheng kepada aksi penolakan ibu-ibu di Rembang yang telah menetap di tenda selama lebih dari empat bulan.
Aksi tersebut berlangsung damai dan diakhiri dengan penyerahan press relese yang ditujukan kepada pimpinan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Zaenal, kuasa hukum warga Rembang dari LBH Semarang mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan rangkaian acara berkelanjutan dalam rangka menyuarakan kepedulian terhadap kejahatan lingkungan dan tindakan represif aparat di aksi damai tenda perlawanan Rembang. “Peduli lingkungan dapat dilakukan dalam berbagai wujud, cara yang paling sederhana adalah dengan mendorong adanya komitmen bersama dari dunia perbankan untuk menolak memberikan kredit pada perusahaan yang ditengarai merusak lingkungan, serta masyarakat pada umumnya, untuk tidak menggunakan produk-produk pabrik yang melakukan perusakan alam”. Komitmen bersama itu seharusnya menjadi satu perspektif mengenai business ethic yang telah banyak disuarakan di luar negeri, tambahnya.
Selanjutnya, pada kamis 4 Desember besok akan digelar kembali sidang gugatan Warga dan Walhi terhadap Izin Lingkungan PT Semen Indonesia yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Tengah di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang. Rencananya Sidang akan dibuka pada pukul 10.00 WIB dengan agenda sidang pembacaan Replik oleh Penggugat (warga dan Walhi). Maya Latifasari dari Koalisi Semarang untuk Kendheng menyerukan perlunya keterlibatan masyarakat luas sebagai bentuk pengawasan dalam persidangan yang terbuka dan jujur, untuk mengetuk nurani hakim akan masalah-masalah keadilan ekologis.

Kontak person :
Muhnur Satyahaprabu (Walhi / 081326436437)
Mazaya Latifasari (085715366614)

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply