“Kendeng, Donga Jejege Adil” (Kendeng, doa untuk tegaknya keadilan)

26 - Dec - 2015 | adplus

Kendeng adalah pegunungan karst yang memiliki berbagai kekayaan hayati dan juga sebagai spirit hidup bagi sumber kehidupan disekitarnya. Pegunungan kendeng merupakan surga bagi beragam flora dan fauna. Pegunungan kendeng memiliki juga keragaman kekayaan sekitar 45 spesies burung dan beragam spesies local fauna lainnya. Selanjutnya pada kawasan kendeng utara juga terdapat beberapa jenis flora endemik yang memiliki berbagai kegunaan lain seperti tempuyung, tapakliman (tanaman obat dan kesehatan), tempuyung (herbisida nabati), cendana (untuk pewangi), dan tananaman endemik lainnya.

Menilik sejarah, Kendeng juga pegunungan khas purba dan pegunungan yang melahirkan peradaban jawa “Ha, na, ca, ra, ka”. Adanya peninggalan Dampo Awang di Kecamatan Tambakromo, penemuan candi kuno di Kecamatan Kayen, Makam para sunan dan situs pewayangan di Kecamatan Sukolilo menjadi Bukti kekayaan Arkeologi khususnya di Kendeng Utara. Keberadaan deretan gunung kendeng ini patut untuk dilestarikan dari ancaman tidak hanya pihak investor khususnya pabrik semen, tapi juga dari masyarakat sekitar kendeng yang tidak dapat memahami bagaimana mengelola dan menjaga alam dari ancaman.

Secara aturan formal telah diakui bahwa Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN (Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional) yang menetapkan kawasan karst masuk sebagai Kawasan Lindung geologi, artinya yang dinamakan kawasan lindung geologi tidak boleh ada penambangan apapun bahkan diklasifikasikan zona pemanfaatan penambangannya. Dalam kurun waktu dua tahun entah mengapa Peraturan ini dapat berubah seketika yakni dengan keluarnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 6 tahun 2010 tentang RTRWP (Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi) Jawa Tengah tahun 2009 – 2029 yang menetapkan bahwa kawasan pertambangan mineral logam, bukan logam, batuan dan batubara terletak di kawasan Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati (Barisan Pegunungan Kendeng). Hal ini terlihat bahwa Kebijakan pemerintah yang tidak memperhatikan keberlanjutan (sustainability), perda yang tidak memperhatikan daya dukung dan selaras dengan aturan diatasnya, penetapan bentang alam yang diciutkan luasnya oleh aturan pemerintah menjadikan keberadaan gunung kendeng menjadikan model ancaman baru yang lebih terstruktur.

Proses panjang ancaman dan perjuangan gerakan sosial dalam memperjuangkan serta menjaga kelestarian Kendeng, akhirnya menjadi media pendidikan semua pihak sejak tahun 2008 – 2015. Inilah yang menjadi mahal dan tidak ternilai dengan apapun terkait pembelajaran kritis yang ada di dalamnya. Maka dengan acara yang akan diselenggarakan pada hari Minggu 27 Desember 2015,pukul 08.00-09.00 WIB,di Omah Sonokeling,Desa Gadudero,Kec.Sukolilo,Kab.Pati yang bertemakan “Kendeng, Donga Jejege Adil”, yakni dengan beberapa kegiatan didalamnya seperti teatrikal lingkungan, orasi lingkungan, doa bersama dan penanaman 2016 pohon semoga menjadi harapan baru untuk bersama menyambut tahun baru 2016 yang lebih tentram dan berkeadilan. Semua pihak semoga dapat nyengkuyung bersatu melestarikan dan berjuang menjaga ketentraman sekitar Kendeng.

Harapan selanjutnya yaitu para pembuat kebijakan semoga dapat berpikir secara jernih serta tidak lagi haus akan kepentingan pribadi dan akhirnya menduakan kepentingan rakyat. Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah harus tegas berani mengakui CAT (Cekungan Air Tanah) yang telah diakui oleh Perpres no. 26 tahun 2011 tentang Cekungan air tanah pada kawasan kendeng tergolong kawasan lindung geologi yang wajib dilindungi. Untuk mewujudkan keadilan hukum dan kesinambungan kehidupan maka proses Pelanggaran-pelanggaran keadilan dan kewenangan yang masih berlangsung saat ini di masyarakat harus wajib juga dihentikan, contohnya yang masih berlangsung di Rembang sampai sekarang ini.Dalam menyambut datangnya tahun baru 2016 dengan doa bersama dalam acara ini juga berlangsung tali-rasa dan sambung-jiwa mendukung keadilan untuk rembang. Semoga pemerintah mulai berubah untuk kedepannya dengan keluarnya kebijakan-kebijakan pembangunan yang lebih arif, bijaksana terkait keberlanjutan sumber daya alam dan manusia.

-Matur Nuwun-
Gunretno (Cp. 081391285242)

Depan | RSS 2.0 | Kategori: artikel | Tags: , , , , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply