Merdeka Reresik Sampah 2018

17 - Aug - 2018 | Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng

P1380236
Press Rilis
Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK)
” Merdeka Reresik Sampah “
Omah Kendeng, 17 Agustus 2018

Pangkur

Pitung puluh telu warsa
Iku mono kandane warga sami
Indonesia kalis bendu
Katelah wis mardika
Uwal seko regeming penjajah tuhu
Nanging opo iku nyata
Kang karoso aning ati

Saiki dudu wong liya
Kang hanjajah malah tegel kepati
Mring sapepodho sedulur
Tunggal negara lan bangsa
Padha padudon rilo sikut sinikut
Mung pamrih anumpuk bondo
Rila tegel anegeli.

Setiap tahunnya, 17 Agustus diperingati sebagai Hari kemerdekaan Indonesia. Sudah 73 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan kolonial Belanda. Merdeka dari ancaman,merdeka dari belenggu kekuasaan yang terus menindas yang kecil sampai 73 tahun yang sudah berganti rezim masih terus berlangsung sampai sekarang.

Setiap tahunnya Indonesia dihadapkan dengan persoalan sampah yang semakin hari semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk. Setiap tahunnya produksi sampah di Indonesia 65,8 juta ton pertahun. Seharusnya pemerintah harus bijak dalam memperhatikan dan dapat menyelesaikan persoalan ini. Ketidakbejusan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan sampah , apalagi menyelesaikan persoalan perusakan lingkungan,apalagi kasus korupsi dan kasus HAM.

Pemerintahan yang dijalankan oleh pejabat pemerintah seharusnya melayani rakyat dan harus mengabdi kepada rakyat. Tapi, faktanya sebagai abdi rakyat justru menjadi begundal para pemodal yang tidak henti-hentinya merusak alam, merampas hak-hak wong cilik. Memberi kemudahan dalam berinvestasi dengan merubah kebijakan-kebijakan yang mengarah berpihak kepada kaum pemodal tanpa menghitungkan nasib rakyat kecil.

P1380216Berdasarkan UUD 45 Pasal 33 Ayat 3 yang berbunyi “ Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Sumberdaya alam yang seharusnya dimanfaatkan bagi kemakmuran rakyat, berpindahtangan ke tangan-tangan serakah yang hanya memikirkan keuntungan sesaat tanpa berfikir panjang akan masa depan anak cucu kita. Peraturan/ undang-undang yang seharusnya dibuat untuk melindungi rakyat dan sumber daya alam “dikondisikan” agar tangan-tangan serakah kaum kapitalis bisa menguasai sumber daya alam. Gunung-gunung yang kaya akan mineral dan sebagai cagar alam, dieksploitasi atas nama investasi. Hutan-hutan lindung beralih fungsi menjadi hutan produksi agar “bisa” dieksploitasi. Ketika berbicara kemakmuran rakyat, rakyat mana yang dimakmurkan dengan adanya perusakan alam yang terus-terusan tanpa hentinya dikeruk dan diperas yang hanya menjadikan bencana besar. Ketika terjadi bencana besar, rakyatlah yang menjadi korbannya. Apakah tindakan itu bisa dianggap sebagai perwujudan kemerdekaan yang berdasarkan Pancasila.

Pemerintah sebagai penyelenggara MANDAT RAKYAT dan sebagai pembuat regulasi, sudah seharusnya bekerja untuk rakyat. Adanya otonomi daerah, seharusnya semakin mendekatkan rakyat pada kesejahteraan yang hakiki sesuai dengan potensi yang dimiliki rakyatnya. Daerah dengan jumlah penduduk yang mayoritas bertani, sudah seharusnya berbagai kebijakkan pembangunan diarahkan untuk mendayagunakan bidang pertanian. Disinilah dibutuhkan kerja keras dan komitmen dari para pemimpin untuk betul-betul MENGABDI KEPADA RAKYAT.

Hanya dengan satu persoalan sampah saja yang jelas dampaknya belum bisa dilesaikan, apalagi kasus-kasus lingkungan lainya. Negara jangan terus-terusan sok peduli lingkungan yang faktanya malah sebagai pelaku pembangkangan terhadap berjalanya UUD Pancasila 1945, kata merdeka terus di lontarkan dengan pengeras suara, tetapi penindasan dengan berbagai cara terus di jalankan, hal inilah PR Kita sebagai anak bangsa tidak boleh pesimis. Kita harus bersatu padu melawan keserakahan, ketidakadilan yang terus berlangsung sampai saat ini tidak boleh dibiarkan dan jangan cengeng melihat tontonan yang tidak mendidik dan terus mengajak para generasi muda untuk gigih dalam menjaga Bumi Pertiwi.
Dalam menjaga keutuhan NKRI semestinya tidak hanya gembar-gembor tetapi harus dengan tidak mengeluarkan ijin-ijin yang kegiatannya berdampak pada kerusakan lingkungan.

Dibuatnya Kajian Lingkungan Hidup Strategis Pegunungan Kendeng yang dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama fokus di Cekungan Air Tanah Watuputih Rembang yang hasil rekomendasinya secara tegas menggambarkan kondisi CAT Watuputih Kabupaten Rembang memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai Kawasan Bentang Alam Karst sebagai kawasan Lindung Geologi dan melakukan revisi terhadap KRP RTRWK Rembang, RTRWP Jateng hingga RTRWN. Selain itu penambangan batugamping di Kawasan CAT Watupitih diperkirakan akan menimbulkan biaya/kerugian ekonomi yang tinggi setidaknya sebesar 2,2 trilyun per tahun selama 50 tahun operasi penambangan. Tahap kedua yang meliputi 7 Kabupaten, 2 Provinsi yaitu Kab.Grobogan, Kab.Pati, Kab.Blora, Kab.Rembang di Jawa Tengah, Kab.Tuban, Kab.Bojonegoro dan Kab.Lamongan di Jawa Timur. Hasil rekomendasi KLHS tahap II, ditegaskan bahwa ekosistem Pegunungan Kendeng secara umum kini telah berada pada titik kritis yang dapat mengancam keberlanjutannya dimasa mendatang, salah satunya dimana semua kabupaten mengalami defisit air. Oleh karena itu dipandang penting untuk segera diambil langkah-langkah darurat, konkrit, terencana dengan baik, dan sistematis untuk mencegah lebih jauh kemerosotan ekosistem Pegunungan Kendeng. Karena itu ditekankan oleh rekomendasi KLHS tahap II yaitu KRP yang berorientasi pada upaya rehabilitasi lingkungan dan/atau mengendalikan kerusakan lingkungan. Dengan dirampungkanya hasil KLHS Peg.Kendeng semestinya segera dijadikan rujukan untuk menghentikan kegiatan penambangan di seluruh Pegunungan Kendeng.

JM-PPK dan generasi penerus anak-anak Wiji Kendeng akan melakukan upacara bendera di halaman Omah Kendeng. Setelah upacara, kami bersama-sama akan melakukan reresik sampah. Kekhidmatan upacara jangan dilihat dari rapinya barisan, tapi bagaimana kita memaknai kemerdekaan itu dan menerapkan PANCASILA dalam berperilaku sehari-hari. Kami juga mengajak semua elemen penerus bangsa untuk tidak mencemari ibu Bumi ini dengan sampah plastik terus-menerus dan melakukan aksi nyata dalam menjaga dan melestarikan Ibu Bumi.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA ke-73 tahun
“LESTARI KENDENGKU, LESTARI INDONESIAKU “
Salam Kendeng
Lestari !!!!!!!
Narahubung :
Gunretno ( 0813 9128 5242 )
Bambang Sutikno ( 0852 9014 0807 )

Depan | RSS 2.0 | Kategori: berita,kegiatan | Tags: , Trackback | 0 Comments

Leave a Reply