<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Website Omah Kendeng</title>
	<atom:link href="http://omahkendeng.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://omahkendeng.org</link>
	<description>Omah Kendeng Kolaborasi Desantara Foundation dengan gerakan petani di Pati, Jawa Tengah, untuk membangun partisipasi dan kemandirian</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 23:29:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Press Release “Do’a Bersama JM-PPK: Bergerak bersama demi Pegunungan Kendeng Utara”</title>
		<link>http://omahkendeng.org/2012-05/295/press-release-%e2%80%9cdo%e2%80%99a-bersama-jm-ppk-bergerak-bersama-demi-pegunungan-kendeng-utara%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://omahkendeng.org/2012-05/295/press-release-%e2%80%9cdo%e2%80%99a-bersama-jm-ppk-bergerak-bersama-demi-pegunungan-kendeng-utara%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 23:29:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sobirno</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://omahkendeng.org/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Gerakan penyelamatan Pegunungan Kendeng Utara telah memasuki tahun ke-7. Telah banyak peristiwa yang mewarnai perjalanan ini. Mulai dari intimidasi, ketegangan sosial hingga kisah tentang kegigihan warga untuk bergerak dalam segala keterbatasan. Semua hal ini menjadi dinamika gerakan yang mengiringi perjalanan panjang Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK). Bulan Mei menjadi bulan yang penting bagi gerakan.....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gerakan penyelamatan Pegunungan Kendeng Utara telah memasuki tahun ke-7. Telah banyak peristiwa yang mewarnai perjalanan ini. Mulai dari intimidasi, ketegangan sosial hingga kisah tentang kegigihan warga untuk bergerak dalam segala keterbatasan. Semua hal ini menjadi dinamika gerakan yang mengiringi perjalanan panjang Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK).</p>
<p>Bulan Mei menjadi bulan yang penting bagi gerakan penyelamatan pegunungan Kendeng Utarag Pada bulan ini di tahun 2010 lalu sejarah telah mencatat keberhasilan JM-PPK mengagalkan rencana peletakan batu pertama pembangunan pabrik PT. Semen Gresik Tbk. Untuk memperingati peristiwa tersebut sekaligus menjaga semangat perjuangan ini maka JM-PPK mengadakan kegiatan “Do’a bersama JM-PPK” pada hari rabu tanggal 16 Mei 2012 di Punden Sunan Geseng, Dkh. Curug., Ds Kedumulyo, Kec. Sukolilo. </p>
<p>Acara ini diharapkan menjadi bagian dari perenungan warga dalam menghayati semangat penyelamatan lingkungan sekaligus merealisasikannya menjadi sebuah karya nyata. Salah satu bentuk karya nyata dari semangat ini adalah melakukan gerakan penghijauan Pegunungan Kendeng Utara. Pada kegiatan ini akan diadakan istigosah dan penanaman pohon oleh JM-PPK kemudian dilanjutkan dengan pembagian bibit tanaman sirsak dan jambu kepada anggota JM-PPK dari Kecamatan Tambakromo, Kayen dan Sukolilo untuk ditanam di lingkungan rumah masing-masing.</p>
<p>Acara ini juga bertujuan untuk memperkuat jaringan warga dari tiga kecamatan di Pati Selatan dalam hal penyelamatan Pegunungan Kendeng Utara karena kekuatan jaringan menjadi satu kunci keberhasilan warga dalam merawat gerakan yang telah berlangsung selama tujuh tahun ini. Diharapkan pula kegiatan ini dapat menjadi penyemangat bagi warga di Kecamatan Kayen dan Tambakromo yang saat ini juga mengalami ancaman pembangunan pabrik semen. Meyakinkan kepada semua pihak bahwa kelestarian Pegunungan Kendeng Utara merupakan satu tujuan bersama yang harus dicapai. </p>
<p>Satu hal yang juga ingin disampaikan melalui kegiatan ini yaitu mengabarkan kepada banyak pihak bahwa gerakan warga masih akan terus hidup. </p>
<p>Salam Kendeng!</p>
<p>									Kedumulyo, 16 Mei 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://omahkendeng.org/2012-05/295/press-release-%e2%80%9cdo%e2%80%99a-bersama-jm-ppk-bergerak-bersama-demi-pegunungan-kendeng-utara%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Press Release Wungon Rebo Pon #1: Membangunkan Kesadaran Kritis Warga Kendeng</title>
		<link>http://omahkendeng.org/2012-05/292/press-release-wungon-rebo-pon-1-membangunkan-kesadaran-kritis-warga-kendeng/</link>
		<comments>http://omahkendeng.org/2012-05/292/press-release-wungon-rebo-pon-1-membangunkan-kesadaran-kritis-warga-kendeng/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 03:53:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sobirno</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://omahkendeng.org/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Situasi krisis multidimensi yang ada di masyarakat sulit dicari pemecahanya. Ranah kebijakan rupanya juga sudah tidak berpihak lagi kepada rakyat kecil dengan arah kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Situasi ini menginspirasi JM-PPK untuk melihat kearifan lokal sebagai alur solusi konstruktif dari masyarakat yang resah selama ini. Pada kenyataannya masyarakat kita saat ini ada.....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Situasi krisis multidimensi yang ada di masyarakat sulit dicari pemecahanya. Ranah kebijakan rupanya juga sudah tidak berpihak lagi kepada rakyat kecil dengan arah kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Situasi ini menginspirasi JM-PPK untuk melihat kearifan lokal sebagai alur solusi konstruktif dari masyarakat yang resah selama ini.<br />
Pada kenyataannya masyarakat kita saat ini ada dalam posisi yang sulit secara situasi kondisi, walaupun sudah berupaya keras untuk hidup bersahaja sampai takaran menderita, tapi tidak kunjung ada keberpihakan yang nyata dari pemerintah. Maka Wungon diharapkan bisa membantu mendapatkan solusi dalam konsep &#8220;tri hita kirana&#8221;, yakni hubungan kita dengan pencipta, kita dengan sesama dan kita dengan lingkungan.<br />
Pangudoroso sebagai tradisi yang lama berkembang diharapkan menemukan kembali peran strategisnya dalam kondisi masyarakat saat ini. Melalui Wungon ini akan ada bedah babat, tembang-tembang dolanan, kidungan, dan geguritan ini diharapkan mampu melahirkan media penghubung yang kembali menyadarkan kita akan hubungan transendental yang lebih dikenal dengan &#8220;sangkan para ning dumadi&#8221;<br />
Besar harapan kami kegiatan Wungon Rebo Pon ini menjadi pembuka nyali dan harapan rakyat kecil yang &#8220;dititipkan kepada para pembawa amanat penderitaan rakyat&#8221; yang selama ini bungkam suara hati nuraninya. Semoga rakyat Kendeng dan siapapun yang hadir dalam kegiatan ini menemukan kembali keberanian dan keteguhan hati dalam menyuarakan kebenaran dalam menghidupi alam dan kehidupan.</p>
<p>Salam Kendeng!<br />
Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://omahkendeng.org/2012-05/292/press-release-wungon-rebo-pon-1-membangunkan-kesadaran-kritis-warga-kendeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menambang Karst, Mengubur Kehidupan</title>
		<link>http://omahkendeng.org/2012-05/286/menambang-karst-mengubur-kehidupan/</link>
		<comments>http://omahkendeng.org/2012-05/286/menambang-karst-mengubur-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 05:56:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sobirno</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[kendeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://omahkendeng.org/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Fitrisia Martisasi (Kompas 4 Mei 2012) Perlu waktu puluhan juta tahun untuk membentuk gugusan terumbu karang dan mencuatkannya ke permukaan Bumi sebagai pegunungan karst. Sebaliknya, bagi pabrik semen, hanya butuh puluhan tahun untuk menghancurkan dan mengubahnya menjadi mesin uang. idato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mencanangkan kawasan eko-karst Gunung Sewu dan Gombong Selatan pada.....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Fitrisia Martisasi (Kompas 4 Mei 2012)</p>
<p>Perlu waktu puluhan juta tahun untuk membentuk gugusan terumbu karang dan mencuatkannya ke permukaan Bumi sebagai pegunungan karst. Sebaliknya, bagi pabrik semen, hanya butuh puluhan tahun untuk menghancurkan dan mengubahnya menjadi mesin uang. </p>
<p>idato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mencanangkan kawasan eko-karst Gunung Sewu dan Gombong Selatan pada Desember 2004 seolah memberi harapan akan keberpihakan pemerintah pada kelestarian ekosistem, keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan. Nyatanya, di lapangan kawasan perbatuan kapur tetap lebih dipandang dari sisi nilai ekonominya ketimbang sebagai benteng penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat.</p>
<p>Setelah delapan tahun berlalu, gaung yang coba digemakan Presiden pun mulai meredup. Isu pelestarian karst tak dianggap menarik. Bentang alam perbatuan kapur—yang merentang dari Aceh hingga Papua seluas 154.000 kilometer persegi—itu oleh masyarakat umum dilihat sebagai perbukitan kering dengan sedikit kehidupan.</p>
<p>Keringnya kawasan karst seolah menjadi pembenaran bagi siapa pun untuk mengambil manfaat ekonominya. Dengan alasan mengisi kebutuhan pembangunan, bermunculan pabrik semen, seperti Semen Gresik di Tuban dan Indocement di Cibinong, mengeksploitasi batu gamping.</p>
<p>”Orang lupa bahwa di balik kawasan karst terdapat cadangan sumber air bersih berbentuk sungai bawah tanah, berbagai flora dan fauna, serta peninggalan arkeologi di beberapa gua tertentu,” kata Ketua Program Studi Teknik Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung Budi Brahmantyo di Bandung, pertengahan Maret lalu.</p>
<p>Dalam istilah Eko Haryono, Ketua Program Studi Geografi dan Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada, karst selalu berasosiasi dengan sumber air. Sekalipun tampak kering di atasnya, di lereng bukit karst pasti terdapat mata air dengan debit luar biasa. ”Air dari karst ini memasok kebutuhan air penduduk dunia sekitar 25 persen,” ujar Eko yang juga peneliti di Karst Research Group Fakultas Geografi UGM.</p>
<p>Bahkan, untuk wilayah Jawa, Kusdarwanto, salah seorang pendiri Lembaga Karst Indonesia, memperkirakan 30-40 persen sumber air berasal dari kawasan karst. Sangat bisa dipahami jika kita menengok peta Pulau Jawa. Pegunungan karst membentang di selatan dari Ujung Kulon ke Sukabumi, Ciamis hingga Kebumen, lalu Wonosari hingga Tulung Agung. Begitu juga di bagian utara, terutama perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, dari Blora, Purwodadi, Pati, Tuban, Gresik, sampai ke Madura.</p>
<p>Harta karun</p>
<p>Air di balik pegunungan karst ibarat harta karun. Tak semuanya muncul di permukaan dan mudah dijangkau. Membutuhkan penelusuran gua untuk mengetahui dari mana datangnya dan ke arah mana air mengalir. Secara garis besar, air datang dari hujan yang jatuh ke permukaan karst yang berpori dan bercelah. Ada yang membentuk bebatuan gamping melalui proses karstifikasi. Ada juga yang menetes dan jatuh membentuk danau serta sungai kecil.</p>
<p>Yang menarik, sungai bawah tanah itu kerap kali tak bisa ditelusuri dari awal sampai akhir. ”Penelusuran sungai bawah tanah kerap harus dikombinasikan dengan teknik menyelam karena ketika air masuk ke dalam lubang kerap kali antara permukaan air dan dinding gua menyatu,” kata tokoh karst Indonesia yang pernah meraih penghargaan Kalpataru tahun 2001, Robby Ko King Tjoen. Spesialis penyakit kulit yang akrab dipanggil dr Ko ini sejak tahun 1973 mendalami soal gua, termasuk di wilayah karst.</p>
<p>Kepala Pusat Sumber Daya Air Tanah dan Geologi Lingkungan Badan Geologi Kementerian ESDM Dodid Murdohardono mengakui, kekayaan air bawah tanah di seluruh Indonesia belum seluruhnya terpetakan. Padahal, peta ini penting sebagai salah satu dasar mengklasifikasikan pemanfaatan kawasan karst. Ringkasnya, bolehkah ditambang ataukah harus dilindungi?</p>
<p>”Selain di permukaan, pemetaan juga harus dilakukan dengan masuk ke gua-gua, menggunakan metode geofisika, interpretasi citra, dan melacak dengan menggunakan radioisotop,” kata Dodid.</p>
<p>Kelompok penelusur gua Acintyacunyata Speleological Club (ASC) yang bermarkas di Yogyakarta, misalnya, telah banyak mendata potensi gua di Indonesia. Dalam survei tahun 2012 di Banyumas, mereka menghitung ada 15 gua karst dengan minimal 15 mata air. Bahkan, salah satunya bisa dipastikan telah membentuk sungai bawah tanah. ”Debitnya di musim hujan bisa mencapai 500 liter per detik,” tutur Bagus Yulianto, anggota ASC.</p>
<p>Bahan baku semen</p>
<p>Kandungan air di balik keringnya kawasan karst adalah sumber kehidupan bagi warga sekitar. Karena itu, ketika PT Semen Gresik tahun 2008 berencana memperluas lahan garapannya ke sebelah barat, yaitu di wilayah Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mereka harus berhadapan dengan penolakan warga yang cukup keras. Kini giliran PT Indocement Tunggal Perkasa yang mengincar kecamatan tetangga, Kayen dan Tambakromo.</p>
<p>Rencana pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng Utara itu ibarat lonceng kematian bagi wilayah yang subur ini. ”Bayangkan, hanya karena hutan gundul saja banyak bencana, apalagi kalau Pegunungan Kendeng ditambang. Bagaimana parahnya nanti,” kata Gunretno, tokoh Sedulur Sikep di Sukolilo.</p>
<p>Banjir bandang pada 3 Desember 2011 masih terpatri jelas dalam ingatannya. Lima desa di Kecamatan Sukolilo porak-poranda dan dua orang meninggal akibat hujan deras selama dua jam. Pemerintah Kabupaten Pati menuding penggundulan hutan dan penambangan liar sebagai penyebab utama. Sementara Gunretno mempertanyakan, perubahan rencana tata ruang wilayah yang semula pertanian dan wisata (1997-2007) menjadi tambang dan industri (sejak 2010).</p>
<p>Menurut Kepala Seksi Bina Pengusahaan Mineral dan Batubara Dinas ESDM Jawa Tengah Budi Susetyo, sekitar 85 persen wilayah pegunungan itu terdiri dari susunan bebatuan gamping, silika, dan lempung. ”Hal itulah yang menjadi dasar penentuan Pegunungan Kendeng dijadikan kawasan penambangan dan industri,” katanya.</p>
<p>Untuk melawan upaya meneruskan rencana pembangunan pabrik semen, Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng memproduksi film dokumenter berjudul Selamatkan Kendeng yang diunggah ke YouTube akhir Oktober lalu. Film itu menggambarkan penolakan warga, penyesalan warga Tuban yang lahannya dimakan pabrik semen, sampai kehadiran mantan Menteri Lingkungan Hidup Sonny Keraf yang mengingatkan ia pernah menolak investasi itu.</p>
<p>Di wilayah Gombong Selatan, Dinas ESDM setempat mencatat sekitar 60 persen batu gamping termasuk karst kelas I dan 30 persen kelas II. Sisanya, 10 persen, masuk dalam kawasan karst kelas III. Karst di kawasan itu juga sangat baik untuk bahan baku pembuatan semen.</p>
<p>Tahun 1997, PT Semen Gombong—di bawah bendera Medco milik pengusaha Arifin Panigoro—sangat bernafsu mendirikan pabrik semen di wilayah itu. Setelah sempat membebaskan lahan sekitar 400 hektar, rencana itu tertunda sampai saat ini akibat krisis moneter tahun 1998.</p>
<p>Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kebumen Masagus Herunoto membenarkan kabar tentang kemungkinan kembalinya PT Semen Gombong meneruskan rencana investasinya. ”Jangan khawatir, kami tetap akan mengacu pada rencana tata ruang dan wilayah yang berlaku. Saat ini kawasan karst Gombong Selatan sudah masuk kawasan lindung. Jadi, eksplorasi besar-besaran tidak bisa serta-merta dilakukan,” ujarnya. </p>
<p>(MH/SON/GRE/HEN)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://omahkendeng.org/2012-05/286/menambang-karst-mengubur-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siaran Pers: Gunung Kendeng, Lestari!! Lestari!! Lestari!!!</title>
		<link>http://omahkendeng.org/2012-04/279/siaran-pers-gunung-kendeng-lestari-lestari-lestari/</link>
		<comments>http://omahkendeng.org/2012-04/279/siaran-pers-gunung-kendeng-lestari-lestari-lestari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 08:27:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://omahkendeng.org/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Pati, 23 April 2012. Pegunungan Kendeng Utara memiliki kekayaan alam, sejarah dan budaya yang melimpah. Salah satu kekayaan alam itu adalah karst yang merupakan bahan baku semen, akibatnya Pegunungan Kendeng Utara menjadi incaran perusahaan besar. Kini PT Sahabat Mulia Sakti (PT SMS) menjajaki dan mengeksplorasi kawasan Kayen dan Tambakromo. Kedatangan anak perusahaan PT Indocement Tunggal.....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pati, 23 April 2012. Pegunungan Kendeng Utara memiliki kekayaan alam, sejarah dan budaya yang melimpah. Salah satu kekayaan alam itu adalah karst yang merupakan bahan baku semen, akibatnya Pegunungan Kendeng Utara menjadi incaran perusahaan besar. Kini PT Sahabat Mulia Sakti (PT SMS) menjajaki dan mengeksplorasi kawasan Kayen dan Tambakromo. Kedatangan anak perusahaan PT Indocement Tunggal Perkasa itu ditolak oleh masyarakat karena menimbulkan keresahan sosial dan berpotensi menimbulkan dampak kerawanan pangan, ketersediaan lahan dan kerusakan lingkungan khususnya sumber-sumber air, polusi udara, kerusakan struktur tanah. </p>
<p>Saat ini PT SMS telah memiliki dua perijinan itu yaitu: Pertama, Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati No: 545/002 Tentang Pemberian Izin Usaha Pertambangan/IUP Eksplorasi Mineral Bukan Logam (Tanah Liat) Kepada Sdr Alexander Frans, Sh Bertindak Untuk Dan Atas Nama PT Sahabat Mulia Sakti. PT SMS akan membutuhkan lahan seluas 2.025 hektar lahan, untuk keperluan penambangan batu kapur di kecamatan Kayen dan tembakromo. Kedua, Keputusan Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati No: 545/003 Tentang Pemberian Izin Usaha Pertambangan/IUP Eksplorasi Mineral Bukan Logam (Batu Kapur) Kepada Sdr Alexander Frans, Sh Bertindak Untuk Dan Atas Nama PT Sahabat Mulia Sakti. PT SMS akan membutuhkan lahan seluas 663 hektar lahan, untuk keperluan penambangan batu kapur di kecamatan Kayen dan tembakromo. </p>
<p>Berdasarkan UU No 32 Thn 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan Lingkunan Hidup, Pasal 1 angka 35, Izin lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang wajib Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) dalam rangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha dan/atau kegiatan. Sedangkan, Pasal 1 angka 36 “Izin usaha dan/atau kegiatan adalah izin yang diterbitkan oleh instansi teknis untuk melakukan usaha dan/atau kegiatan.” Sampai saat ini PT SMS belum memiliki ijin lingkungan karena masih dalam tahap proses sidang KA ANDAL. Artinya, Perijinan yang telah dikeluarkan oleh KAYANDU Pati dan Kementrian Kehutanan tersebut adalah pelanggaran hukum.</p>
<p>Selain itu, penambangan Kawasan Karst Pegunungan Kendeng Utara bertentangan dengan Pasal 51 huruf e Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang Tata Ruang Wilayah Nasional yang menyatakan bahwa “salah satu kawasan yang harus dilindungi adalah kawasan lindung geologi”. Kemudian Pasal 52 (5) juga menyatakan bahwa “kawasan lindung geologi terbagi menjadi 2 kawasan, yaitu kawasan cagar alam geologi dan kawasan yang memberiksn perlindungan air bawah tanah”, yang dimaksud “kawasan cagar alam geologi adalah kawasan yang mempunyai keunikan bentang alam” (Pasal 53 (1)) dan “kawasan yang mempunyai keunikan bentang alam salah satunya adalah bentang alam kars” (Pasal 60 (2) f). Mengenai posisi Kawasan Karst Pegunungan Kendeng Utara sebagai kawasan karst diperkuat di dalam Kepmen Nomor 0398 K/40/MEM/2005 tentang Penetapan Kawasan Kars Sukolilo.</p>
<p>Berdasarkan hal tersebut maka kami, secara serentak pada tanggal 23 April 2012 dengan ini melakukan: pertama aksi pemasangan sejumlah ratusan spanduk penolakan yangdi desa maitan, larangan, wukirsari, keben, brati, karangawen, ngerang  yang terletak di Kecamatan Kayen dan Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati kedua mengirimkan surat-surat penolakan kepada para pemangku kebijakan dengan tuntuan:</p>
<p>1. Kepada Bupati Kabupaten Pati, untuk segera MENCABUT ijin yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Pati No: 545/002, karena sudah melanggar UU 32 tahun 2012 UU No 32 Thn 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan Lingkunan Hidup, dan peraturan lainnya;</p>
<p>2. Kepada Ketua DPRD Kabupaten Pati, untuk segera melakukan REVISI perda RTRW Kabupaten Pati karena bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang Tata Ruang Wilayah Nasional dan peraturan lainnya;</p>
<p>3. Kepada Kapolres Kabupaten Pati, untuk MENJAMIN HAK masyarakat dalam memperjuangkan kelestarian pegunungan kendeng bertindak NETRAL dan segera MENINDAK pemberi ijin kepada PT SMS, karena dalam UU No 32 Thn 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan Lingkunan Hidup Pasal 111 ayat (2) Pejabat pemberi izin usaha dan/atau kegiatan yang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan tanpa dilengkapi dengan izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). </p>
<p>Selain mengirimkan surat kepada pemangku kebijakan di Kabupaten Pati, kami juga mengirimkan surat penolakan kepada Presiden RI, Ketua UKP34, DPR RI, BPN RI, Kementrian Kehutanan, Kementrian Lingkungan Hidup, Komnas HAM dan media massa</p>
<p>Gunung Kendeng. Lestari!! Lestari!! Lestari!!!</p>
<p>Informasi lebih lanjut:<br />
Bambang – Organisasi “RAJAWALI” (085290140807)</p>
<p>Siaran Pers Bersama</p>
<p>Organisasi “RAJAWALI” (Rakyat Bersahaja Wukirsari Aksi Lingkungan),<br />
Organisasi “FOR RUDALL” (Forum Remaja Larangan Peduli Lingkungan),<br />
Organisasi “SELAMPIT” (Selangkah Menuju Petani Terpadu),<br />
Organisasi “APEL” (Aliansi Pemuda Peduli Lingkungan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://omahkendeng.org/2012-04/279/siaran-pers-gunung-kendeng-lestari-lestari-lestari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Biarkan Kelelawar Terbang Melindungi Kita”</title>
		<link>http://omahkendeng.org/2012-04/263/%e2%80%9cbiarkan-kelelawar-terbang-melindungi-kita%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://omahkendeng.org/2012-04/263/%e2%80%9cbiarkan-kelelawar-terbang-melindungi-kita%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 05:24:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sobirno</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Potensi Kendeng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://omahkendeng.org/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Maret, saat musim hujan tinggal menyisakan bagian akhirnya beberapa orang anggota tim media Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) menelusuri kembali kawasan hutan di Pegunungan Kendeng Utara. Kali ini mereka melakukan pengamatan terhadap kelelawar yang ada di goa-goa di kawasan yang rencananya akan masuk dalam area penambangan pabrik semen. Mengapa harus kelelawar? Mengapa juga.....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Maret, saat musim hujan tinggal menyisakan bagian akhirnya beberapa orang anggota tim media Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) menelusuri kembali kawasan hutan di Pegunungan Kendeng Utara. Kali ini mereka melakukan pengamatan terhadap kelelawar yang ada di goa-goa di kawasan yang rencananya akan masuk dalam area penambangan pabrik semen. Mengapa harus kelelawar? Mengapa juga harus dilakukan pengamatan? Tulisan ini akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan ini sekaligus juga menjadi semacam uraian kegiatan pengamatan  yang berlangsung selama satu minggu.</p>
<p>Kawasan batu kapur (karst) memiliki ekosistem spesifik yang sangat penting bagi keberadaan tatatanan social dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Struktur batuan yang beronggo menjadikannya mampu mengalirkan air permukaan menuju sumber-sumber mata air.  Sampai saat ini kita bisa menyaksikan ratusan mata air yang ada di wilayah Pegunungan Kendeng Utara dengan debit air mencapai ratusan liter per detik. Dalam proses ini lubang-lubang buangan dimana air permukaan menghilang atau yang biasa disebut ponor (luweng) menjadi sangat penting.  Selain potensi hidrologi ini, kawasan kars juga memiliki jenis fauna yang cukup beragam, seperti ayam hutan, monyet, babi hutan, kancil dan beberapa jenis hewan lainnya.</p>
<p>Salah satu jenis satwa yang memiliki peran penting bagi pertanian adalah kelelawar. Kelelawar menjadi satu titik sangat penting dalam rantai makanan di area sawah dan hutan. Kemampuan mereka untuk memangsa hewan-hewan kecil seperti serangga menjadikan mereka predator hama alami yang sangat penting. Kelelawar pemakan serangga  memainkan peranan penting ini. Ketiadaan kelelawar ini akan meningkatkan jumlah hama bagi lahan pertanian di sekitar hunian kelelawar ini. Sebuah fakta mengejutkan dialami oleh petani di negara Amerika Serikat ketika hewan ini coba dimusnahkan karena diduga membawa virus pada tahun 2006 lalu.</p>
<div class="boxfoto">
<img src="http://omahkendeng.org/wp-content/uploads/2012/04/kelelawar-lebih-dekat.jpg" width="350" /></p>
<div class="p10">Mencatat ciri spesifik. Sumber foto: dokumentasi JM-PPK</div>
</div>
<p>Ternyata belakangan diketahui, kematian kelelawar tersebut menyebabkan kerugian sebesar USD3,7 miliar per tahun yang dialami oleh para petani. Pasalnya kematian kelelawar dapat berarti hilangnya pestisida alami yang memiliki nilai penting bagi para petani. &#8220;Tanpa kelelawar hasil panen akan sangat berpengaruh. Penggunaan pestisida akan semakin meningkat. Bahkan jika dirunut lebih jauh lagi, temuan ini secara jelas menunjukkan bahwa kelelawar memiliki pengaruh besar dalam perekonomian pertanian dan perhutanan,&#8221; ujar Dr Gary McCracken, Kepala Departemen Ekologi dan Evolusi Biologi dari University of Tennessee, Knoxville, seperti dikutip melalui <em>Straits Times</em>, Jumat (1/4/2011).</p>
<p>Sedangkan jenis kelelawar yang berperan dalam proses penyerbukan juga tak kalah penting di banding jenis kelelawar pemakan serangga. Menurunnya populasi kelelawar jenis ini terbukti menurunkan jumlah hasil panen petani seperti yang terjadi pada petani durian di daerah Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Daerah yang dulu dikenal sebagai penghasil durian ini kini tak bisa lagi menggantungkan perekonomiannya pada pertanian durian karena kecilnya putaran uang dalam bisnis durian. Jumlah panen yang semakin menurun akibat proses penyerbukan yang tidak banyak terjadi membuat nasib petani durian di daerah ini semakin memprihatinkan. Seperti yang disampaikan oleh Ibnu Maryanto dalam Konferensi Kelelawar Indonesia dua tahun yang lalu, berlangsungnya penambangan semen di wilayah ini telah menyebabkan merosotnya populasi kelelawar padahal hewan inilah yang membantu proses penyerbukan tanaman durian (Koran Tempo 10/6/2011) .</p>
<p>Dari 1055 jenis kelelawar yang ada di dunia saat ini  hampir seperempatnya berada di Indonesia. 77 Di antaranya berperan dalam penyerbukan sedangkan 148 jenis lainnya sebagai pemakan serangga yang secara tidak langsung membantu manusia dalam memberantas hama dan penyakit. Jika melihat potensi alam ini, sangat ironis jika melihat sering kali kawasan karst, yang menjadi habitat penting kelelawar, dikorbankan untuk industri pertambangan. Di tambah lagi hingga saat ini Indonesia belum memiliki peraturan yang berupaya melindungi kelelawar dari ancaman kepunahan. Padahal hingga saat ini sekitar 45% dari total populasi hewan yang beraktifitas pada waktu malam hari (<em>nocturnal</em>) ini menghadapi ancaman kepunahan.</p>
<p>Di tengah ketidakberpihakan pemerintah dalam melindungi kelelawar di daerah karst saat ini, kesepakatan warga untuk melindungi kelelawar menjadi satu-satunya harapan. Akan tetapi membangun kesepakatan warga ini bukan perkara yang mudah karena terbatasnya pengetahuan yang terbatas mengenai peran penting kelelawar. Perburuan kelelawar menjadi salah satu sebab berkurangnya populasi hewan ini yang ironisnya hal ini dilakukan dengan dasar mitos. Menurut penelitian yang dilakukan oleh M. Toops, kelelawar termasuk salah satu hewan yang seringkali diburu oleh manusia akibat mitos yang mengaitkan hewan ini dengan keberadaan setan. Bahkan di beberapa negara, termasuk Indonesia, kelelawar diburu untuk dijadikan makanan karena dipercaya menjadi obat untuk beberapa penyakit.</p>
<p>Kebijakan pembangunan yang tidak ramah lingkungan dan minimnya kesadaran masyarakat untuk memberikan perlindungan pada kelelawar menjadi dua persoalan penting yang harus dipecahkan. Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan sebaagai upaya untuk memberikan pemahaman akan pentingnya kelelawar adalah dengan melakukan pengamatan kelelawar/<em>Bats Watching</em> (BW). Pengamatan yang dilakukan oleh tim media JM-PPK di desa-desa seperti Karangawen, Brati dan Slening ini menjadi awal ikhtiar untuk membuka jalan membangun pengetahuan kritis bagi warga dalam melihat kelelawar sebagi bagian dari potensi alam yang harus dilindungi.</p>
<p>Tim peneliti: Joko, Nur, Wahono, So, Kuswanto, Wagiman, Sobirin dan Bambang.<br />
Sumber: Koran Tempo, Straits Time, Journal of Ecotourism .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://omahkendeng.org/2012-04/263/%e2%80%9cbiarkan-kelelawar-terbang-melindungi-kita%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KA ANDAL yang Tak Lagi Netral</title>
		<link>http://omahkendeng.org/2012-02/246/ka-andal-yang-tak-lagi-netral/</link>
		<comments>http://omahkendeng.org/2012-02/246/ka-andal-yang-tak-lagi-netral/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 06:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sobirno</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[INDOCEMENT]]></category>
		<category><![CDATA[KA ANDAL]]></category>
		<category><![CDATA[Kayen]]></category>
		<category><![CDATA[kendeng]]></category>
		<category><![CDATA[Tambakromo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://omahkendeng.org/?p=246</guid>
		<description><![CDATA[Setelah beberapa tahun warga Pegunungan Kendeng Utara dapat hidup tenang karena diurungkannya niat PT. Semen Gresik, Tbk. Untuk membangun pabriknya di sini, kini datang lagi perusahaan lain, PT. Indocement. Dalam rencana produksinya, perusahaan yang pemegang sahamnya didominasi oleh orang asing ini akan menghasilkan 8.000 ton semen per hari dan akan sangat mungkin bertambah menjadi 16.000.....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah beberapa tahun warga Pegunungan Kendeng Utara dapat hidup tenang karena diurungkannya niat PT. Semen Gresik, Tbk. Untuk membangun pabriknya di sini, kini datang lagi perusahaan lain, PT. Indocement. Dalam rencana produksinya, perusahaan yang pemegang sahamnya didominasi oleh orang asing ini akan menghasilkan 8.000 ton semen per hari dan akan sangat mungkin bertambah menjadi 16.000 ton per hari.</p>
<p>Kegiatan penambangan ini akan melakukan penambangan batu kapur seluas 2.025 ha, tanah liat 663 hektar dan 180 ha area untuk pabrik dan perkantoran. Sepuluh desa di Kecamatan Kayen dan Tambakromo akan masuk dalam rencana pembangunan. Untuk mencapai target ini, sedikitnya 8.000 ton batu kapur akan ditambang setiap hari padahal kita tahu bahwa setiap 1 m3 batu kapur mampu menjadi area resapan 48 liter air. Bayangkan berapa jumlah air yang berpotensi hilang jika penambangan ini berlangsung.</p>
<p>Ini menjadi satu faktor penting mengapa warga Pati Selatan menyuarakan penyelamatan lingkungan Pegunungan Kendeng Utara. Telah terbukti bahwa selama ini air dari Pegunungan Kendeng Utara telah mampu menghidupi puluhan warga yang mayoritas bekerja sebagai petani. Tak ada jaminan bahwa penambangan ini tidak akan mempengaruhi ketersediaan air saat ini. Contoh sederhana saja telah begitu banyak bencana yang terjadi akibat kerusakan hutan. Lalu apa jadinya jika Pegunungan Kendeng Utara akan dipotong untuk industri semen?</p>
<p>Peningkatan ekonomi masyarakat dan penamabahan Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi alasan yang sering digunakan oleh mereka yang selama ini menginginkan pendirian pabrik semen. Akan tetapi jika dilihat dalam dokumen rencana produksi, keinginan ini sama sekali tak berdasar. Salah satunya dari sisi penyerapan tenaga kerja oleh pabrik semen dibandingkan dengan tenaga kerja di bidang pertanian. Dalam dokumen KA ANDAL yang kami terima, rencana kerja berdirinya pabrik PT INDOCEMENT di Pegunungan Kendeng Utara ini terbagi dalam beberapa tahapan yang masing-masing tahapan telah ditentukan berapa jumlah tenaga kerja yang akan digunakan. Pembangunan basecamp dan akses jalan (300 orang), pekerjaan sipil sarana/prasarana (200 orang), penambangan dan tapak pabrik (200 orang), pemasangan peralatan (300 orang), uji coba produksi (400 orang) dan tahapan operasional (800 orang). Jumlah tenaga kerja yang terserap ini tidak sebanding dengan 280 orang tenaga kerja yang dibutuhkan untuak menggap setiap hektar sawah pada setiap musimnya. Berapa jumlah tenaga kerja yang akan hilang jika ribuan hektar lahan diubah menjadi kawasan industri?</p>
<p>Argumen-argumen di atas selalu kami sampaikan di banyak forum, baik dalam pembahasan draft Perda RTRW Kabupaten Pati maupun sosialisasi yang dilakukan oleh pihak PT MAP selaku penyusun AMDAL. Akan tetapi nampaknya apa yang disampaikan hanya dianggap angin lalu atau formalitas, buktinya mereka tetap saja meneruskan rencana pembangunan pabrik semen. Seperti yang disampaikan oleh Alex Frans, Direktur PT. SMS, setelah sosialisasi di Desa Slening ia mengatakan bahwa warga telah siap untuk melakukan bedol desa. Padahal menurut keterangan warga yang hadir dalam sosialisasi tersebut tidak pernah ada pernyataan dari warga untuk melakukan bedol desa, bahkan sebagian besar warga yang hadir dalam pertemuan tersebut menolak keras rencana pembangunan pabrik semen.</p>
<p>Tak cukup dengan melakukan praktek manipulasi, kelompok  yang pro pabrik semen juga menggunakan cara-cara kekerasan. Seperti dengan mengerahkan preman untuk menghalangi kegiatan JM-PPK dalam melakukan sosialisasi penyelamatan Pegunungan Kendeng Utara. Salah satunya dalam gelaran pawai lingkungan yang kami adakan pada tanggal 1 Januari 2012 yang lalu. Pawai Lingkungan yang diadakan oleh JM-PPK dihadang oleh preman bersenjata tajam ketika ingin memasuki jalanan desa Keben. Beruntung kejadian ini tidak melahirkan bentrokan besar.</p>
<p>Manipulasi kembali dilakukan dengan tujuan untuk menutup akses informasi warga yang menolak pembangunan pabrik semen.  Seperti yang terjadi di desa Keben, Kepala Desa mengatakan kepada warganya bahwa ia sama sekali tidak tahu mengenai adanya rencana pembangunan pabrik semen atau pun acara sosialisasi KA ANDAL pada tanggal 30 Januari 2012. Bahkan ketika bertemu warga pada tanggal 28 Januari 2012 ia mengatakan ia akan menghajar siapapun warganya yang berangkat ke acara sosialisasi KA ANDAL pabrik semen. Hal yang lebih parah terjadi di desa Purwokerto dan Sumbersari di Kecamatan Kayen ketika Kepala Desa sama sekali tidak memberikan informasi apapun kepada warganya perihal rencana pembangunan pabrik semen.</p>
<p>Menjelang sosialisasi KA ANDAL pada tanggal 30 Januari 2012, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Pati selaku panitia kegiatan menyebarkan undangan ke banyak pihak antara lain kepala desa di beberapa kecamatan yang akan terkena pabrik semen, LSM dan akademisi. Untuk desa-desa di Kecamatan Kayen dan Tambakromo, pihak desa menerima empat sampai enam undangan. Satu untuk kepala desa sedangkan sisanya untuk warga pro maupun kontra. Akan tetapi pada prakteknya hanya kepala desa dan warga yang pro pabrik semen saja yang mendapatkan undangan. Setelah mendesak pihak kepala desa akhirnya warga yang kontra pembangunan pabrik semen berhasil memperoleh empat undangan sosialisasi tersebut.  JM-PPK sendiri tidak mendapatkan undangan dalam forum ini, sedangkan tokoh pro semen dari Sukolilo, Eko Yasir, mendapatakan undangan resmi.</p>
<p>Undangan sosialisasi KA ANDAL yang tidak representatif ini disikapi warga dengan mengadakan longmarch dari wilayah Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo menuju Hotel Pati, tempat berlangsungnya sosialisasi. Warga memiliki hak untuk terlibat secara aktif dalam proses yang terkait dengan AMDAL seperti diatur dalam Keputusan Gubernur Jawa tengah no. 25 tentang keterlibatan masyrakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL Keputusan Kepala Bappeda 08 tahun 2000 tentang keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL.</p>
<p>Pagi 30 Januari 2012, sekitar lima puluh truk yang mengangkut warga mulai bergerak pukul delapan pagi setelah sebelumnya terdengar kabar bahwa pihak pro semen telah menyiapkan preman untuk menghadang. Benar saja, ratusan preman telah berkumpul di beberapa titik jalan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo. Warga dari Kecamatan Sukolilo berhasil menembus barikade preman di pertigaan Sukolilo, pasar Cengkalsewu sampai kemudian dihentikan oleh puluhan preman di pertigaan Kayen. Bentrok kembali terjadi ketika warga dari Tambakromo bergabung di pertigaan Kayen yang membuat preman berhasil dipukul mundur. Iring-iringan warga pun berhasil meneruskan perjalanan hingga ke depan hotel Pati.</p>
<p>Sesampainya di depan Hotel Pati, pintu gerbang hotel telah ditutup dan dijaga oleh puluhan preman, BANSER dan polisi. Warga pun melakukan aksi duduk di jalan sambil berorasi dan bersholawat penolakan pabrik semen. Mereka tak tahu bagaiman jalannya diskusi di dalam acara sosialisasi karena permintaan perwakilan warga agar menyediakan soundsystem di luar hotel tidak dipenuhi. Beberapa perwakilan warga yang diwawancarai oleh media cetak maupun elektronik mengatakan bahwa warga tetap menolak rencana pembangunan pabrik semen dan jika ini diteruskan maka bukan tidak mungkin akan terulang kembali tragedy Bima dan Mesuji.</p>
<p>Sementara itu, Anik dan Sri, warga dari desa Brati yang mendapatkan undangan resmi dari panitia sosialisasi KA ANDAL tidak berhasil masuk karena dalam dafttar hadir ternyata posisinya telah diisi oleh orang lain. Akhirnya hanya dua orang saja yang mewakili suara warga tolak semen dalam forum sosialisasi, antara lain Suyitno dan Widiarto. Dalam forum ini mereka menyampaikan dasar penolakan rencana pembangunan pabrik semen, misalnya dengan menceritakan kekayaan alam dan fungsi social ekonomi Pegunungan Kendeng Utara bagi warga di Kecamatan Sukolilo, Kayen dan Tambakromo. Diskusi menjadi memanas ketika Kepala BLH yang berlaku sebagai modeerator dirasa tidak adil dalam memimpin forum. Ia cenderung memihak pada kelompok yang pro pabrik semen. Akhirnya forum ini selesai tanpa ada kesimpulan apapun bahkan salah seorang narasumber dalam pertemuan ini yang dimintai keterangan oleh JM-PPK pada tanggal 31 Januari menyatakan bahwa secara teknis, KA ANDAL belum layak jadi acuan ANDAL karena deskripsi penambangan dan proses produksi belum lengkap. Selain itu banyak juga masukan dari tim ahli belum diakomodasi.</p>
<p>Peristiwa yang terjadi pada hari ini memberikan arti penting bagi warga. Pertama, kepercayaan diri warga semakin bertambah setelah berhasil menghadapi barisan yang menghadang aksi hari ini. Terbukti dengan semakin kritisnya warga terhadap pemerintah desa yang pro terhadap pabrik semen. Seperti yang terjadi di desa Keben, warga menggrudug kepala desa agar mau menandatangi surat yang menyatakan penolakan pabrik semen. Kedua, publik menjadi lebih tahu bahwa saat ini wilayah Kendeng Utara masih terus bergejolak karena isu pembangunan pabrik semen karena hampir semua media cetak dan elektronik memberitakan aksi hari ini. Semoga kritisisme warga terus terawat dengan pengalaman dan pembelajaran dalam aksi-aksi berikutnya. Salam.</p>
<p>Ditulis oleh Tim Dokumentasi Omah Kendeng</p>
<p>Facebook: www.facebook.com/omahkendeng</p>
<p>Twitter: @omahekendeng</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://omahkendeng.org/2012-02/246/ka-andal-yang-tak-lagi-netral/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warga Sukolilo menolak pendirian pabrik semen</title>
		<link>http://omahkendeng.org/2012-02/243/warga-sukolilo-menolak-pendirian-pabrik-semen/</link>
		<comments>http://omahkendeng.org/2012-02/243/warga-sukolilo-menolak-pendirian-pabrik-semen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 03:59:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://omahkendeng.org/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Unjuk rasa ribuan warga Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, menolak pembangunan pabrik semen diwarnai bentrokan. Bentrokan dipicu pengadangan sekelompok orang bayaran yang mendukung keberadaan pabrik semen tersebut. video: ANTV via Youtube]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Unjuk rasa ribuan warga Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, menolak pembangunan pabrik semen diwarnai bentrokan. Bentrokan dipicu pengadangan sekelompok orang bayaran yang mendukung keberadaan pabrik semen tersebut.</p>
<p>video: ANTV via Youtube</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://omahkendeng.org/2012-02/243/warga-sukolilo-menolak-pendirian-pabrik-semen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Salah Lék Jemi?</title>
		<link>http://omahkendeng.org/2012-01/226/apa-salah-lek-jemi/</link>
		<comments>http://omahkendeng.org/2012-01/226/apa-salah-lek-jemi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 08:46:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://omahkendeng.org/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Suasana sidang di awal tahun 2012 (Rabu, 4/01/2012) itu berlangsung tegang. Warga yang memberi dukungan terhadap Jemi (40 tahun) harus berhadapan preman. Lék Jemi, demikian buruh tani itu biasa dipanggil, terpaksa harus berhadapan dengan palu hakim karena dituduh melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap Wati Sareh. Wati Sareh adalah salah seorang yang dianggap pendukung keberadaan pabrik.....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://omahkendeng.org/wp-content/uploads/2012/01/foto_3_crop.jpg" width="200" class="right" alt="" />Suasana sidang di awal tahun 2012 (Rabu, 4/01/2012) itu berlangsung tegang. Warga yang memberi dukungan terhadap Jemi (40 tahun) harus berhadapan preman. Lék Jemi, demikian buruh tani itu biasa dipanggil, terpaksa harus berhadapan dengan palu hakim karena dituduh melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap Wati Sareh. </p>
<p>Wati Sareh adalah salah seorang yang dianggap pendukung keberadaan pabrik semen. Ia, dulu pernah diajak studi banding ke pabrik semen di Bogor bersama para kepala desa. Kabarnya, selain diajak, mereka yang ikut ke Bogor juga diberi uang saku. Karena itulah, kemudian warga punya anggapan, Wati Sareh adalah bagian dari yang mendukung berdirinya pabrik semen. Mungkin karena itulah Wati Sareh mendapat kawalan dari para preman.</p>
<p>Waktu itu, Jumat, 20 Mei 2011, hampir semua warga Karangawen datang ke balai desa. Mereka hendak menggalang tandatangan menyatakan penolakan rencana pendirian pabrik semen di Kecamatan Tambakromo, Pati. </p>
<p>Saat itulah, sekitar pukul 15.00 wib, dengan mengendarai sepeda motor, Wati Sareh datang ke balai desa dan memberikan tanda tangan. Ia merasa risih dengan omongan orang karena tak datang ke balai desa. Tetapi, ibu-ibu yang heran dengan kedatangan Wati Sareh, bersorak dan bertepuk tangan. Salah seorang yang dianggap bertepuk tangan adalah Jemi. </p>
<p><img src="http://omahkendeng.org/wp-content/uploads/2012/01/foto_2.jpg" width="300"  alt="" /><br />
Warga dan sanak saudara yang selalu setia memberi dukungan kepada lek Jemi ketika di persidangan</p>
<p>Merasa dipermalukan, Wati pulang. Entah apa yang ia katakan kepada anaknya, sekitar pukul 18.00, anak bersama keponakan Wati Sareh mendatangi rumah Lék Jemi yang berjarak sekitar 20 meter. Mereka berdua kemudian melempari genteng rumah Lék Jemi hingga pecah. Masih tak berhenti di situ, keesokan harinya, Wati Sareh melaporkan Lék Jemi ke polisi dengan alasan melakukan perbuatan tidak menyenangkan.</p>
<p><img src="http://omahkendeng.org/wp-content/uploads/2012/01/foto_4.jpg" width="300" alt="" /><br />
Tak hanya di dalam ruang sidang, di luar gedung pengadilan pun warga setia dan memberi dukungan kepada lek Jemi </p>
<p>Jemi sekarang berstatus sebagai tahanan luar. Setiap Senin dan Kamis,  ia wajib lapor. Apa yang Lék Jemi alami, membuatnya sering merasa khawatir dan takut, sebab hanya karena bertepuk tangan, ia harus berurusan dengan polisi dan persidangan.</p>
<p>Yitno, aktivis di Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng mengatakan bahwa kasus yang dialami Lek Jemi adalah dampak dari pro kontra rencana pendirian pabrik semen. </p>
<p>Foto-foto: Ragil Kuswanto</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://omahkendeng.org/2012-01/226/apa-salah-lek-jemi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penemuan Situs Kayen: Memaknai Kendeng Lebih Dalam</title>
		<link>http://omahkendeng.org/2011-10/218/penemuan-situs-kayen-memaknai-kendeng-lebih-dalam/</link>
		<comments>http://omahkendeng.org/2011-10/218/penemuan-situs-kayen-memaknai-kendeng-lebih-dalam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 04:59:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://omahkendeng.desantara.org/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Pegunungan Kendeng Utara seakan tak pernah berhenti mengundang decak kagum banyak orang. Makam Gedong, Pertapaan Watu Payung, Makam Syeh Jangkung merupakan beberapa situs yang menjadi episentrum ketertarikan orang dari banyak tempat untuk mendatangi daerah ini. Legenda-legenda zaman pewayangan, seperti makam semar dan pertapaan Dewi Kunti di Watu Payung, berkait singgung dengan cerita-cerita para wali seperti.....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pegunungan Kendeng Utara seakan tak pernah berhenti mengundang decak kagum banyak orang. Makam Gedong, Pertapaan Watu Payung, Makam Syeh Jangkung merupakan beberapa situs yang menjadi episentrum ketertarikan orang dari banyak tempat untuk mendatangi daerah ini. Legenda-legenda zaman pewayangan, seperti makam semar dan pertapaan Dewi Kunti di Watu Payung, berkait singgung dengan cerita-cerita para wali seperti Syeh Jangkung dan Sunan Geseng yang juga tertanam kuat di benak orang-orang Pati Selatan. Ternyata bukan warga yang ingin “ngalap berkah” dengan bertapa saja yang tertarik untuk datang tetapi juga investor besar seperti beberapa pabrik semen juga ingin “ngalap berkah” Pegunungan Kendeng Utara dengan rencana eksploitasi besarnya. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk memaknai lebih jauh keberadaan pegunungan kapur yang terletak di perbatasan Kabupaten Pati dengan beberapa kabupaten seperti Blora, Grobogan dan Kudus ini.</p>
<p>Berawal dari hasil peninjauan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta (Balar Yogyakarta) pada 4 Mei 2011 di Dusun Miyono (Mbuloh), Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati Jawa Tengah; tim yang dipimpin oleh dra. TM. Rita Istari dengan anggota Hery Priswanto, SS., Agni Sesaria Mochtar, SS., dan Ferry Bagus berhasil mengidentifikasikan beberapa temuan Benda Cagar Budaya (BCB). Di antaranya struktur bata yang masih intact, arca, serta beberapa artefak dari logam dan keramik. Kedatangan tim Balar Yogyakarta ini atas laporan dari warga sekitar Situs Kayen yang di wakili oleh Nur Rohmad (Pengurus Makam Ki Gede Miyono) dan Subono (Kepala Desa Kayen) mengenai tindak lanjut keberadaan Situs Kayen. Secara astronomis Situs Kayen terletak pada 111 derajat 00’ 17,0” BT 06 derajat 54’ 31.8” LS berada di dataran alluvial yang cukup datar dan Pegunungan Kendeng di Selatannya. Kondisi lingkungan Situs Kayen cukup subur dengan didukung keberadaan Sungai Sombron yang berhulu di Pegunungan Kendeng dan bermuara di Sungai Tanjang.</p>
<p><img src=" http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/305896_2112720426239_1492505217_31742280_653018450_n.jpg" alt="" /></p>
<p>Penemuan Situs Kayen ini berawal dari rencana pembangunan mushola di sebelah barat makam Ki Gede Miyono. Warga disekitar makam tokoh yang dalam cerita ketoprak disebut sebagai musuh dari Syeh Jangkung atau Saridin ini merasa sangat terganggu karena hampir tiap malam lokasi makam yang terletak di tengah sawah ini digunakan untuk ajang perjudian.Warga berharap dengan dibangunnya mushola ini lokasi yang kerap didatangi peziarah ini akan menjadi aman. Saat melakukan penggalian warga menemukan bata-bata kuna yang berukuran besar yang kemudian dimanfaatkan untuk membangun makam Ki Gede Miyono yang sebelumnya hanya bernisankan sebuah batu. Temuan ini kemudian diteliti oleh BP3 Jawa Tengah yang kemudian diteliti kembali oleh Balai Arkeologi Yogyakarta.</p>
<p>Dari penelitian tersebut didapat beberapa temuan. Sebuah monumen berbahan bata kuna yang berukuran tebal 8-10 cm, lebar 23-24 cm dan panjang 39 cm masih utuh terpendam dalam tanah. Di sekitar bangunan ini juga ditemukan berapa komponen bagian candi seperti antefiks dan kemuncak sehingga terdapat kemungkinan bahwa bangunan ini adalah sebuah candi. Selain itu juga ditemukan artefak berbahan bata seperti wadah peripih, antefiks, kemuncak candi, bata candi berpelipit, dan bata tulis. Kemudian artefak berbahan batu putih seperti Arca Mahakala, Umpak dan kemuncak candi. Benda-bena lain yang berbahan logam dan keramik juga ditemukan seperti darpana, piring, mangkuk dan lampu gantung.</p>
<p><img src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/311403_2112721666270_1492505217_31742281_52470497_n.jpg" alt="" /></p>
<p>Berdasarkan hasil peninjauan Tim Balar Yogyakarta di Situs Kayen, diperoleh kesimpulan bahwa temuan BCB tersebut mempunyai nilai arkeologi dan kesejarahan yang cukup tinggi dalam kaitan penyusunan historiografi di Indonesia, terutama temuan struktur bata yang diduga sebagai candi ini merupakan temuan baru karena berada di wilayah Pantai Utara Jawa. Temuan candi berbahan bata sejenis banyak dijumpai di wilayah pedalaman Jawa seperti di poros Kedu – Prambanan dan Trowulan.</p>
<p>Walaupun masih harus dibuktikan keabsahannya secara “ilmiah’, narasi yang tertulis dalam buku “Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung” memberikan gambaran awal tentang kondisi awal pulau Jawa sebelum menjadi yang sekarang ini. Dalam buku tipis berbahasa jawa yang mulai ditulis pada tahun 1931 itu digembarkan sebuah peta kuna yang menggambarkan beberapa gugusan pulau yang membentuk Jawa.  dalam peta ini digambarkan sebuah pulau tanpa nama yang disitu terdapat Dieng, Gunung Merapi, Peunungan Sewu, Pegunungan Kendheng Kidul, hingga gunung Wilis. Di sebelah timur pulau besar tanpa nama ini, dengan dibatasi Bengawan Brantas, terdapat sebuah pulau bernama Jawa Pegon yang disitu terdapat Gunung Kamput, Gunung Kawi, Arjuna, Welirang dan Penanggungan. Dibagian utara pulau besar tanpa nama tersebut terdapat tiga pulau, yaitu Medunten di timur laut dan Jawa Purwa serta satu pulau tanpa nama yang lebih kecil tepat di sebelah utara.</p>
<p>Pada zaman ini terdapat dua Pegunungan Kendheng, Pegunungan Kendheng Selatan yang disebut Pegunungan Kendheng Tua dan Pegunungan Kendheng Utara yang disebut dengan sebutan Nusa Kendheng. Pegunungan Kendheng Selatan merupakan rangkaian dari Pegunungan Kabuh di Kabupaten Jombang dan membujur ke barat hingga Pegunungan Masaran Kabupatenn Sragen. Pegunungan Kendheng Selatan dulu berasal dari Pegunungan Watujago yang terbelah akibat gempa besar yang disertai meletusnya Gunung Lawu pada 9.000 tahun yang lalu. Letusan ii mengakibatkan terbentuknya lembah Ngawi yang sekarang ini menjadi jalur aliran Bengawan Solo. Sebelum terjadi gempa, Pegunungan Watujago telah dihuni oleh manusia yang masih telanjang dan berupa kera besar yang memakan hewan-hewan kecil dan buah-buahan yang bisa didapat dengan mudah di Pegunungan ini. Oleh orang lain yang lebih memiliki kebudayaan, orang-orang seperti ini disebut dengan “Wong Legena”, Gandaruwo atau “Monyet Limuri”. Pada waktu itu orang-orang ini belum berani tidur di goa karena masih dihuni oleh binatang buas. Mereka lebih memilih untuk tidur di celah-celah tebing atau dahan pohon yang tinggi.</p>
<p><img src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/298267_2112723506316_1492505217_31742283_1833256418_n.jpg" alt="" /></p>
<p>Pegunungan Kendheng Utara (Nusa Kendheng) pada 5.000 tahun yang lalu, yang saat itu masih berupa pulau dengan tiga semenanjung, telah dihuni oleh “wong-suku Lingga” yang lebih maju daripada “Wong Legena” karena telah bisa membuat senjata dari batu yang diasah. Nusa Kendheng saat itu dikelilingi oleh teluk dan laut (segara). Di sebelah selatang terdapat Teluk Lodhan yang bersambungan dengan Segara Kening di sebelah Timur. Di sebelah selatan terdapat Segara selat Kendheng-Kidul dan Segara Teluk Lusi. Sedangkan di sebelah utara terdapat Teluk Juwana dan Samodra JAWA yang sangat luas. Di sebelah barat terdapat Segara teluk Serang yang bertemu dengan Segara Selat Murya yang memisahkan Nusa Kendheng dengan Gunung Murya yang saat itu masih berupa gunung berapi yang sangat besar. Deskripsi pulau Jawa pada masa-masa awal ini bisa menjadi sebuah petunjuk awal untuk terus melacak peninggalan-peninggalan bersejarah di Pegunungan Kendheng Utara.</p>
<p>Kini makam Ki Gede Miyono seakan tak pernah sepi dari peziarah. Ribuan peziarah, terutama pada hari minggu memadati lokasi ini untuk melihat penemuan candi yang ramai diberitakan. Warga sekitar makam pun mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit dari penemuan ini dengan banyaknya pemasukan dari pungutan parkir sepeda motor atau mobil para peziarah. Salah satu bentuk nyata dari manfaat ekonomi yang diberikan oleh Pegunungan Kendeng Utara bagi warganya. Akan menjadi sebuah kerugian besar bagi catatan perdaban manusia jika pegunungan ini harus rusak oleh pandangan sempit pengusaha tambang dan para politisi yang melihatnya hanya sebagai gundukan batu yang menggiurkan untuk ditambang.  Apakah pembaca juga akan memaknai Kendeng Utara sebagai sebuah area miskin layak tambang yang harus dikorbankan untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tak jelas juntrungannya itu? Semoga tidak. (Sob)</p>
<p>Tulisan juga dipublish di <a href=" http://www.facebook.com/notes/omah-kendeng/penemuan-situs-kayen-memaknai-kendeng-lebih-dalam/10150329082296078">facebook</a><br />
Sumber: www.arkeologijawa.com dan catatan pribadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://omahkendeng.org/2011-10/218/penemuan-situs-kayen-memaknai-kendeng-lebih-dalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video: Dewi Sri Nggrantes</title>
		<link>http://omahkendeng.org/2011-10/214/video-dewi-sri-nggrantes/</link>
		<comments>http://omahkendeng.org/2011-10/214/video-dewi-sri-nggrantes/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Oct 2011 08:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://omahkendeng.desantara.org/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Dwi Sri, sosok yang dekat dengan petani sebagai Dewi kesuburan telah menghidupi manusia selama ini. Seakan tak pernah putus bumi pertiwi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dwi Sri, sosok yang dekat dengan petani sebagai Dewi kesuburan telah menghidupi manusia selama ini. Seakan tak pernah putus bumi pertiwi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://omahkendeng.org/2011-10/214/video-dewi-sri-nggrantes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

